Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Isu-isu kontemporer 4

TEKNOLOGI PADA GENERASI DIGITAL IMMIGRANT


Pada saat ini di abad ke 20 lahir sebuah generasi yang tumbuh dengan komputer dan tidak bisa hidup tanpa teknologi modern karena  telah berinteraksi dengan teknologi sejak kecil atau disebut dengan digital native, pada dekade ini juga ada yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi dan akhirnya berhenti menggunakan teknologi  (digital dinosaurs). Tetapi terjadi pula fenomena dimana generasi orang-orang yang tumbuh dengan mesin telepon, fax dan 'roneo', mesin tik, microfiche, ensiklopedi, perpustakaan, game Commodore 64 TV dan mungkin bahkan dunia pra TV muncul dengan keinginan mempelajari dan menggunakan teknologi yang saat ini berkembang, generasi ini lah yang disebut dengan generasi immigrant. Seorang digital immigrant adalah individu yang lahir sebelum adopsi teknologi digital secara luas. Istilah digital immigrant juga berlaku bagi individu yang lahir setelah penyebaran teknologi digital dan yang tidak terpapar pada usia dini.

Berkembangnya teknologi bagi digital immigrant ini menjadi sebuah tantangan yang harus dilalui, karena bisa disebut  generasi yang sudah berumur maka kesulitan untuk berpindahpun sering dirasakan, misalkan mereka harus berpindah dari ponsel seperti batu bata pada tahun 1990an dengan antenna panjang dan  baterai cadangan yang memiliki tas sendiri lalu belajar menggunakan komputer berbasis MS DOS dan printer dot matrix.  Bahkan generasi digital immigrant yang dulu merasakan jika ingin berkomunikasi dengan seseorang yang berjarak jauh harus mengirimkan surat terlebih dahulu tetapi sekarang hanya  dengan mempelajari dan menggunakan internet dan email.

Berdasarkan wawancara saya dengan beberapa generasi digital  immigrant, mereka merasakan teknologi menimbulkan dampak pada perubahan perilaku termasuk perilaku pencarian informasi,  mengenal teknologi mulai diterapkan ketika  sudah tidak lagi muda tentu mereka harus benar-benar mempelajari teknologi untuk keberlangsungan kebutuhannya (misalkan pekerjaanya yang menuntut untuk melek teknologi) sehingga  mereka dituntut  untuk bisa menggunakan teknologi selain computer seperti smart phone , tablet, GPS,email dan grup WhatsApp dll.  

Digital  immigrant merasakan dampak yang signifikan terhadap penglihatan, kurang tidur dan waktu istirahat hanya untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan teknologi,  tetapi mereka tidak mempukuri teknologi telah benar-benar mengubah hidupnya menjadi lebih baik karena bisa bekerja kapan saja dan dimana saja, lalu bisa selalu berhubungan dan memiliki informasi yang kita butuhkan di ujung jari.  Mereka merasa pekerjaan terselesaikan lebih cepat, lebih praktis, dan jauh lebih mudah. Dapat disimpulkan bahwa teknologi sudah banyak mempengaruhi kehidupan digital immigrant, mereka bisa survive  dalam pencarian informasi yang lebih cepat sehingga mereka merasakan peran teknologi bisa menjadi kebutuhan hidupnya sama halnya yang terjadi pada generasi digital native.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Isu-Isu kontemporer 3

Munculnya cyberchondria di era revolusi informasi

Di era revolusi informasi nilai kesejahteraan tergantung pada perkembangan sistem untuk merekam, mengumpulkan dan menyampaikan informasi masa lalu, era ini dikenal dengan istilah “no record, no history”  dengan demikian dapat dikatakan seseorang  dapat memproduksi informasi jauh lebih besar lagi. Revolusi informasi juga didukung dengan akses teknologi yang memudahkan seseorang mencari informasi dan mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi (cyberchondria).

Hiperhistory atau dikenal dengan seseorang yang memiliki ketergantungan dengan teknologi, sehingga munculnya sebuah penyakit yang dikenal dengan cyberchondria, istilah ini dikenal dengan sebuah penyakit yang tidak ditimbulkan oleh virus tetapi timbul karena prilaku pengindap penyakit itu sendiri.  Asal kata cyberchondria adalah cyber dan hipokondria istilah ini bersalah dari bahasa yunani artinya tulang rawan atau tulang dada. Ini bermaksud untuk mengatakan bahwa pengidap penyakit cyberchondria merendahkan segala macam informasi real karena cyberchondric cenderung lebih self-diagnosis.

Di dunia medis cyberchondria dipakai untuk menyebut orang-orang yang mengganggap dirinya sedang mengidap penyakit parah berdasarkan hasil berjelajah informasi melalui internet secara berlebihan. Sehingga, dunia kedokteran menyebut penyakit ini bahkan lebih berbahaya dibandingkan dengan penyakit yang sebenarnya yang sedang dihadapi oleh pasien tersebut. cyberchondria ini bahkan dapat mengancam kematian dikarenakan pengidap akan terus-menerus mencari infomasi penyakitnya di internet yang barang tentu informasi tersebut tidaklah benar. Pengidap penyakit ini biasanya sulit berinteraksi dengan dunia nyata dan selalu mengandalkan informasi di internet sebagai solusi diatas setiap permasalahannya.

Masyarakat hiperhistory memang seharusnya membatasi diri dalam mengakses informasi, karena akan membahayakan jika sudah ketergantungan dan bahkan lebih mempercayai bantuan teknologi dibandingkan profesi-profesi (misalnya dokter) yang mempunyai ilmu lebih dibidang kesehatan yang dapat mengdiagnosa penyakit lebih akurat, padahal informasi yang terdapat di internet hanya berdasarkan database penulisnya saja. Lalu, coba bertanya kepada diri masing-masing. Apakah kita sudah cenderung mengidap penyakit cyberchondria? 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS