Bismillah..
Hari ini terasa lelah sekali, entah karena banyak kerjaan entah karena shift bekerjaku untuk 3 minggu ini dijadwalkan masuk siang-sore. Jadinya tidak se semangat dan se fresh ketika bekerja di pagi hari.
Ku bereskan meja kerjaku, ku tata semua berkas lalu ku keluar ruanganku. Tidak lupa memakai helm tom and jerry kepunyaan keponakanku lalu aku dan spongebob (re:motor bebek mio) keluar dari pekarangan sekolah tempatku bekerja. Sekolah ini terletak di jalur kiri jalan raya sedangkan rumahku ke arah jalur kanan jadi seperti biasa aku harus menunggu lalu lintas sepi untuk membelokkan motorku sebelum menyebrang jalan, maklum rasa trauma jatuh motor meski belum dikategorikan kecelakaan berat waktu itu masih membekas di ingatanku sehingga berani membawa motor kembali adalah tantangan baru dalam hidupku akhir-akhir ini.
Lalu lintas kosong, ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan jam 5 sore dan ku lihat di seberang sana berdiri seorang anak laki laki ber tas ransel besar dengan melongok kanan kiri seperti menunggu sesuatu, aku pun menyeberang jalan lalu ku berhentikan motorku tepat didepan dia. Anak itu mendekatiku lalu menyapaku 'sore buk rahmi, hati-hati di jalan ya buk' dengan bahasa khas daerahku yang kental sekali. Aku pun menjawab 'sore M (inisialnya), kok sendiri? Belum pulang? Lalu dia menjawab bahwa dia lagi menunggu ojek untuk pulang ke tempatnya tapi belum ada ojek yang mau mengantarkannya sampai ke rumahnya. Aku tidak tau ada dorongan dari dalam diriku tiba-tiba saja aku bertanya 'bisa bawa motor?' Dia mengangguk lalu ku tawarkan dia untuk memboncengku sampai ke rumahnya, dia menolak 'tidak usah bu rahmi, ga enak sama ibuk lagi pula rumahku sangat jauh' aku tentu tidak ingin memaksanya tapi ku ulangi tawaran ku lagi 'yakin?' Dia agak bingung karena jam sudah menunjukkan jam setengah 6 yang kalau di pakai ke jamnya orang desaku sudah saatnya 'kembali ke rumah sebelum magrib berkumandang' lalu dia menjawab 'kalau ibuk tidak keberatan saya dengan senang hati buk, maaf merepotkan ibu' lalu aku turun dan memberi kunci motor kepadanya.
Jadilah aku mengantar anak itu ke rumahnya yang aku sendiri tidak tau alamat yang dimaksudnya dimana karena yang ada di pikiranku kasian anak ini setauku kelasnya masuk pagi hari tapi sudah sore begini masih belum pulang ke rumah, lalu terjadilah percakapan seperti ini:
Aku : A
Siswa : M
A : tadi M bukannya jadwal masuk pagi ya? (Karena setauku kelas XI itu dijadwalkan pagi)
M : Iya ibu, tapi tadi ada kelas tambahan.
A : trus tadi pas istirahat zuhur ga pulang?
M : Engga bu, susah kalau bolak balik berat di ongkos
A : ooo gitu. Nah skrg rumahnya dimana?
M : Di bawah bukit buk, lalu dia menyebutkan nama daerahnya
A : Emang mau y tukang ojek nganterin sampe kesana?
M : Engga mau buk, kalau ada yang mau juga paling kalau udah malam, mungkin kasian.
A : Trus tadi pagi pake apa ke sekolah?
M : Pake mobil sayur buk sama anak anak disana, kita mah susah buk kalau akses mau ke Tapan, tau sendiri ga ada kendaraan umum kalau mau juga ojek itu pun jarang sekali ada yang mau nganterin.
A : emang kamu udh lama tinggal disana? Kalau ibuk boleh tau orang tua masih ada kan?
M : bapak udah ga ada bu, kita tinggal di sana cuma ada tiga rumah. Ibu saya jualan kue kami ke lima anak-anaknya bantuin ibu jualan kue sepulang sekolah. Uangnya buat ditabungin masuk perguruan tinggi nanti.
A : MasyaAlloh. Kenapa ibu g tau kalau M jualan kue? Ibu g pernah liat.
M : Iya bu, dari semester kemarin pihak sekolah g bolehin siswa berjualan di sekolah lagi bu. Mungkin sebelum ibu bekerja di sekolah kami ya peraturannya diterapkan. Padahal bu, hidup saya tergantung sama berjualan kue itu. Kalau di sekolah dibolehin jualan kue pastinya saya masih banyak punya waktu luang untuk belajar karena sepulang sekolah saya tidak ada kegiatan lain, semenjak berjualan kue tidak diperbolehkan di sekolah saya jadi curi curi waktu untuk belajar tambahan belajar bu, sebab sepulang sekolah saya harus keliling-keliling kampung untuk menjual kue jatah saya pulangnya pun sudah magrib, malamnya kami semua membantu ibu memasak kue untuk keesokan harinya. Dan begitu seterusnya bu.
Perjalanan aku rasa semakin jauh, masyaAllah ini sudah mulai gelap jalan berliku tanjakan dan berlubang-lubang kiri kanan hutan belantara dihiasi bukit yang tandus. Ya ampun, ini dimana.
A : M ini masih jauh nak?
M : Lumayan ibu, saya jdi tidak enak ke ibu mungkin ibu tidak biasa ya ngelewatin jalanan seperti ini? Saya sudah bilang padahal ke ibu rumah saya jauh bu. Maaf ya bu.
A : Wah gpp, ibu udah biasa dulu waktu jadi mahasiswa ibu juga pernah ikut pengabdian ke desa yang sepertinya agak mirip dengan desamu (sebenarnya aku tidak ingin dia menjadi tidak enak hati)
M : wah pasti seru ya bu...
Lalu kami bercerita tentang pengalamanku semasa kuliah karena sepertinya dia sangat tertarik untuk berkuliah, aku mulai memasuki dia dengan ruh ruh semangat motivasi supaya dia tidak putus asa dalam meraih pendidikan. Hingga pada azan magrib berkumandang aku dan dia sampai di sebuah rumah kayu di kaki bukit nan tandus.
Aku lihat anak-anak kecil disekelilingnya berlarian ke arah M sambil berteriak kalau M sudah pulang lalu mengucapkan terimakasih kepadaku, tanpa sempat melihat ke arah rumahnya lebih lama akupun tancap gas. Yang ada di benakku aku belum pernah melakukan perjalanan sendirian di daerah sejauh ini dan itu bawa motor pula.
Bahwa sesungguhnya tulisan ini dibuat bukan karena ingin menceritakan aku yang udah bisa bawa motor sejauh itu dengan jalanan yang se ekstrim itu, bukan!
Tulisan ini dibuat karena sampai detik ini aku merasa bangga dengan anak itu, seorang siswa kelas XI yang berasal dari kaki bukit rela menempuh betapa jauhnya perjalanan setiap harinya, sepulang sekolah dia berjualan kue, dan hebatnya lagi dia punya cita cita yang tinggi. Biasanya aku hanya mendengar cerita dari orang atau membaca blog orang dan sering juga hanya melihat di TV saja, tapi kali ini tidak! Aku melihat, mendengar cerita dengan mata dan kepalaku sendiri masih ada anak yang tinggal di kaki bukit yang punya semangat juang yang tinggi. Seorang anak di kaki bukit yang tidak mengenal malu harus mejajakan kue dari rumah ke rumah dan pelajaran yang terpentingnya adalah seorang anak yang meninggalkan kata gengsinya. Kita banyak melihat seusianya sekarang seorang anak yang masih labil dalam pencarian jati diri, yang menunjukkan gengsi harta dan style yang tidak ingin tinggal oleh zaman bahkan seorang M anak kaki bukit ini mempunyai telefon genggampun tidak. Dia tidak gengsi. Yang terpenting adalah M masuk lima besar di kelasnya. 100% aku berani menjamin M bisa jadi juara kelas jika dia tidak terlahir di lingkungan tandus kaki bukit dan menjual kue setiap harinya.
Lalu kita? Berani tidak kita menjamin diri kita menjadi manusia lebih baik dari ini? Bahkan hidup kita tidak harus menjual kue dari kecil, bahkan kita makan apa yang kita suka, berpakaian yang kita suka bahkan kita berpenampilan seperti artis di tv padahal latar belakang keluarga kita mungkin lebih parah dari si anak kaki bukit ini? Sudahkah kita membantu orang tua kita seperti anak ini? Cukup gengsikah kita berpenampilan seperti apa keadaan diri sendiri? Mari renungi. Belajarlah dari anak kaki bukit ini. Seorang anak yang selalu terlihat bahagia dengan apa yang dia punya. Seorang anak yang tidak butuh gengsi yang penting berisi. Seorang anak yang berani menatap masa depan meski terkadang matahari sudah mulai gelap di perbatasan bukit tempat mereka tinggali.
Ceritaku tentang anak kaki bukit, semoga bermanfaat.
.
.
.
Btw, thank you so much readerku. Hari ini statistik di blog pengunjungku 3X lipat dari biasanya. Ini membawa kebahagiaan, insyAllah makin semangat menulis lagi kedepannya. Amiin. 😇







