Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Review: Isu-isu kontemporer

REVIEW: REVOLUSI INFORMASI DAN LEDAKAN INFORMASI
ARTIKEL OLEH:
Rene L Pattiradjawane

Revolusi Informasi dan Ledakan Informasi bertujuan untuk transformasi masyarakat kearah yang lebih baik dalam segala aspek dan bidang. Permulaan revolusi informasi ini terjadi ketika kebangkitan eksplosif jaringan Internet disertai dengan inovasi mutakhir teknologi dan telekomunikasi atau sekitar 10-15 yang lalu. Drucker dalam sebuah artikel berjudul Beyond the Information Revolution di The Atlantic Monthly edisi Oktober 1999, mungkin bisa memberikan gambaran yang tepat apa sebenarnya arti paling mendasar dan dampak yang ditimbulkan oleh revolusi Informasi yaitu jaringan internet menguasai pekerjaan-pekerjaan baik manajerial maupun professional. Lalu berdampak pada struktural terhadap lingkup bisnis, struktur keluarga, hubungan masyakat, kegiatan kemanusiaan, bisnis, gaya kerja, persoalan demografi, politik, pemerintahan, pendidikan, serta seni dan hiburan. Revolusi informasi pada saat ini disebut sebagai Abad Jaringan (Connection Age) mulai mengubah konsep ruang dan waktu. Transformasi Revolusi Informasi yang masih dipacu oleh teknologi informasi, komunikasi, dan koordinasi. Teknologi-teknologi ini berpotensi mentransformasi secara menyeluruh berbagai ragam hubungan ke seluruh dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Transformasi kemasyarakatan pada masa Revolusi Industri tidak selalu merupakan sebuah hasil langsung adanya teknologi itu sendiri. Perubahan-perubahan dalam struktur sosial sebenarnya yang menciptakan berbagai peluang ekonomi bagi penemuan-penemuan teknologi tersebut. Terintegrasinya inovasi teknologi, evolusi ekonomi dan transformasi sosial ini sebenarnya juga terjadi kembali pada masa Revolusi Informasi sekarang ini. Transformasi sosial pada perkembangan inovasi teknologi ini, tampak dalam berbagai kehidupan kemasyarakatan dalam pekerjaan, kehidupan rumah, keluarga, pendidikan, politik, kesenian, maupun waktu. Dampak pendidikan Transformasi penting lainnya, selain keluarga, politik, kesenian, dan lainnya, terjadi pada bidang pendidikan. Pada Abad Pertanian tidak ada pendidikan universal seperti yang kita kenal sekarang ini. Baru pada akhir tahun 1700-an, sekolah bagi anak-anak menjadi sesuatu yang lumrah dengan tetap mempertahankan kebiasaan masa lalu, di mana masih tersisa waktu-waktu yang mengakomodasi masa tanam dan panen. Sekolah mulai berubah pada masa Revolusi Industri dengan tujuan utama untuk mempersiapkan anak-anak memasuki kehidupanan produktif ke dalam masyarakat berbasis industri. Dalam Revolusi Informasi, penggunaan temuan teknologi dan telekomunikasi dalam bentuk komputer maupun konektivitas ke jaringan Internet tidak hanya menjadi sekadar alat bantu guru dalam memberikan pelajaran di kelas-kelas atau menjadi subyek yang harus dipelajari semata. Dalam era sekarang ini ke depan, teknologi bisa menjadi sebuah perantara yang sangat kuat untuk memberikan pada murid berbagai keahlian yang dibutuhkan menyongsong dan menggeluti ekonomi baru. Salah satu yang penting dalam pemanfaatan teknologi dalam pendidikan sekarang ini adalah memberikan pengalaman dalam mengerjakan proyek berbasis tim yang juga melibatkan berbagai organisasi. Berbeda dengan era-era sebelumnya, dampak teknologi yang ditimbulkan dewasa ini di tempat-tempat kerja secara langsung memberikan dampak tidak langsung ke bagian lain kelompok masyarakat. Ketika teknologi percetakan diperkenalkan, buku-buku mulai masuk sebagai bagian penting dalam pengembangan pendidikan di sekolah-sekolah. Bersamaan dengan masuknya buku, hal-hal yang tidak bisa diajarkan dengan bantuan buku pun langsung menghilang. Revolusi Informasi sekarang ini akan memberikan keuntungan sepenuhnya bagi pendidikan dengan menghubungkan para pengajar melalui jaringan-jaringan yang sekarang tersebar di udara atau tertanam di dalam tanah. Perkembangan pesat teknologi informasi, baik dalam perangkat keras dan perangkat lunak menunjukkan betapa perubahan yang cepat selalu memberikan berbagai dampak yang sulit untuk mencari jawabannya. Sebab atau akibat Terkoneksinya seluruh dunia memang menghasilkan lompatan-lompatan penting yang akan mengubah jalannya kehidupan. Karena dunia sekarang ini sudah sangat terkoneksi satu sama lain, sehingga berbagai macam gagasan berkembang dan dipikirkan oleh berbagai orang di seluruh belahan bumi ini. Akibatnya, memang sulit untuk menentukan apakah gejala-gejala ini semua merupakan sebuah sebab atau sebuah akibat. Teknologi memang berdampak terhadap apa yang dimungkinkan untuk mendorong terjadinya perilaku-perilaku atau hubungan-hubungan baru yang pada gilirannya akan memacu arah baru pada perkembangan teknologi itu sendiri. Lingkaran yang terus berputar ini memang sesuatu yang tidak terhindari dan tampaknya hampir tidak mungkin untuk mengidentifikasi mana yang terlebih dahulu: teknologi itu sendiri atau kebutuhan pada teknologi itu. Teknologi informasi, komputasi, dan komunikasi telah menjadi sebuah kekuatan instrumental dalam menentukan dimensi baru hubungan antarpribadi dan bisnis, kemudian dari waktu ke waktu mengalami transisi kearah yang lebih baik.


DAFTAR RUJUKAN

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Isu-Isu Kontemporer sesi ke 8

MELIHAT REALITA OPEN ACCESS DI INDONESIA

        Sebagai Negara berkembang,  Indonesia mulai membenahi segala sesuatu demi kemajuan dalam segala bidang, salah satunya  pada bidang pendidikan yaitu dengan menyediakan open access sebagai rujukan dalam penelitian ilmuwan di Indonesia. Seperti yang banyak diketahui bahwa jurnal tidak dapat diakses oleh semua kalangan, adanya jurnal berbayar membuat keterbatasan informasi bagi peneliti-peneliti Indonesia, hadirnya open access di Indonesia menjadikan peneliti-peneliti  dapat sedikit berlega hati untuk tidak mengeluarkan biaya dalam mencari sumber literature. Melihat fakta tersebut dapat diketahui bahwa open access (OA) sangat dibutuhkan dan harus diperjuangkan terutama di Negara berkembang seperti Indonesia, menurut Siregar (2012) Kampanye gerakan OA internasional pertama dicetuskan di Budapest pada  Februari 2002, yang dikenal dengan nama Budapest Open Access Initiative (BOAI). Kemudian berikutnya disusul dengan Bethesda Statement on OA Publishing pada bulan Juni 2003, dan Berlin Declaration on OA to Knowledge in the Sciences and Humanities pada bulan Oktober 2003. Pada tahun 2007, MIT meluncurkan OpenCourseWare (OCW) yang memuat materi kuliah secara online.
                Sedangkan perkembangan Open access di Indonesia  berdasarkan data Siregar pada tahun 2012 OA di Indonesia sebenarnya mengalami perkembangan yang menggembirakan tetapi tidak sepesifik untuk jurnal penelitian. Perkembangan utamanya adalah dalam bentuk repositori institusi yang dikenal dengan IR. Hingga saat artikel ini ditulis, terdapat 28 IR perguruan tinggi yang masuk dalam Rankings Web of Repositories oleh Webometrics yang dilakukan sejak tahun 2008. Hasil pemeringkatan ini cukup mengesankan karena 4 di antaranya mampu menduduki peringkat 19 hingga 30 dunia pada edisi Juli 2012 yaitu ITS, USU, Unand, dan Undip. Selain dalam bentuk IR, penerbit jurnal di Indonesia, yang pada umumnya adalah Perguruan Tinggi juga mendaftarkan jurnalnya pada Directory of Open Access Journals (DOAJ). Berdasarkan statistik DOAJ, Indonesia berada pada peringkat 35 dari 121 negara, dengan jumlah jurnal sebanyak 45 dari total 8.604 judul dari seluruh dunia (Januari 2013). DOAJ diluncurkan sejak tahun 2002, dan jurnal Indonesia mulai terdaftar sejak tahun 2009. Jumlah ini memang masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah judul jurnal yang terbit di Indonesia. Dalam Indonesian Scientific Journals Database (ISJD) yang dikembangkan oleh LIPI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) saja terdaftar 245 judul jurnal, dan diperkirakan masih banyak lagi yang diterbitkan tetapi tidak bisa ditemukan dengan googling. Karya penulis Indonesia juga tersedia pada beberapa situs layanan konten dan blog perorangan saja. Semoga kedepannya open access di Indonesia berkembang baik agar bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh semua kalangan.

DAFTAR PUSTAKA

Siregar , A. Ridwan. (2012). Open Access Dan Perkembangannya Di Indonesia. Medan: Universitas Sumatera Utara.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Isu-Isu Kontemporer sesi 7

PARADIGM SHIFT  di PERPUSTAKAAN

Perpustakaan sebagai sebuah instansi yang befungsi memenuhi kebutuhan informasi pengguna tentu akan terus berkembang. Hal ini yang menyebabkan pergeseran paradigma sumber-sumber informasi yang disediakan di perpustakaan. Menurut Stuert (2002), saat ini pergeseran paradigma informasi yang berakibat pada perubahan pola kerja dan orientasi institusi yang bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan seperti perpustakaan.
Paradigm shift  Tiga hal fundamental dalam sebuah institusi perpustakaan atau pusat informasi menurut Surachman  yakni:
  1. Resources / sumber daya
Ada perubahan dan pergeseran dalam pemanfaatan sumber daya. Apabila pada awalnya sumber daya hanya dimiliki dan dimanfaatkan sendiri dan media yang digunakan sangat terbatas, maka pada saat ini sumber daya harus dipikirkan untuk dapat di-sharing dalam wadah yang lebih luas dan berorientasi pada pemanfaatan multiple media atau berbagai ragam media. Hal ini penting karena ada keterbatasan pada tiap-tiap organisasi/institusi perpustakaan dalam menyediakan sumber dayanya. Untuk itu mau tidak mau perpustakaan harus dapat meningkatkan kerjasama baik melalui forum-forum kerjasama maupun hubungan secara langsung. Hal lain tentunya perpustakaan harus dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang memudahkan perpustakaan untuk melakukan sharing informasi melalui apa yang disebut sebagai virtual library.
  1. Services / Layanan
Cara pelayanan dalam bidang informasi atau perpustakaan ini juga mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan jaman. Pelayanan tidak lagi hanya hanya berorientasi pada pelayanan di dalam saja (internal) tetapi harus mempunyai pandangan yang lebih universal bagi akses informasi, kolaborasi, dan sharing sumberdaya dan layanan. Konsep cara pelayanannya pun sudah harus lebih bervariasi seperti halnya supermarket, bahkan mungkin hypermarket. Perpustakaan dan pusat informasi diharuskan dapat memberikan berbagai pelayanan yang dibutuhkan oleh pengguna yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Seperti layaknya supermarket, maka perpustakaan atau pusat informasi yang dapat memberikan pelayanan lebih bervariasi, murah dan cepat akan memuaskan pengguna dan mendatangkan pengguna lebih banyak lagi.
  1. Users / Pengguna
Perlakuan terhadap pengguna dan perilaku tenaga perpustakaan/pusat informasi juga hendaknya mengalami perubahan. Sudah saatnya staf perpustakaan tidak hanya sebagai “penjaga buku” atau koleksi dan menunggu datangnya pengguna tanpa melakukan usaha apapun untuk mendatangkan pengguna. Sudah saatnya perpustakaan melakukan promosi dan memberikan gambaran-gambaran kepada pengguna mengenai bagaimana perpustakaan dapat menjawab kebutuhan informasi mereka. Pengguna juga perlu diberdayagunakan, dididik dan dimanfaatkan untuk perkembangan perpustakaan. Perpustakaan perlu lebih terbuka terhadap kemauan dan keinginan pengguna serta dapat memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan perpustakaan semaksimal mungkin. Akhirnya diharapkan dari perubahan ini maka akan terjadi sinergitas antara pengguna dan petugas perpustakaan. Keduanya akan saling mendukung dalam pengelolaan dan pengembangan perpustakaan.

Pustakawan harus mampu menjawab tantangan paradigm shift di perpustakaan yang sedang dikelola, karena perpustakaan akan terus menerus akan berubah seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar dapat tercapai maksimal pustakawan harus menyadari dan peduli dengan paradigm shift yang terjadi di dunia perpustakaan pada masa depan.

Daftar Pustaka
Stuert, Robert D. and Barbara B. Moran. 2002. Library and Information Center Management. 6th edition. Greenwood Village, Colorado: Libraries Unlimited.

Surachman , Arif. Perpustakaan Perguruan Tinggi  menghadapi Perubahan Paradigma Informasi [paper].




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Isu-isu kontemporer 4

TEKNOLOGI PADA GENERASI DIGITAL IMMIGRANT


Pada saat ini di abad ke 20 lahir sebuah generasi yang tumbuh dengan komputer dan tidak bisa hidup tanpa teknologi modern karena  telah berinteraksi dengan teknologi sejak kecil atau disebut dengan digital native, pada dekade ini juga ada yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi dan akhirnya berhenti menggunakan teknologi  (digital dinosaurs). Tetapi terjadi pula fenomena dimana generasi orang-orang yang tumbuh dengan mesin telepon, fax dan 'roneo', mesin tik, microfiche, ensiklopedi, perpustakaan, game Commodore 64 TV dan mungkin bahkan dunia pra TV muncul dengan keinginan mempelajari dan menggunakan teknologi yang saat ini berkembang, generasi ini lah yang disebut dengan generasi immigrant. Seorang digital immigrant adalah individu yang lahir sebelum adopsi teknologi digital secara luas. Istilah digital immigrant juga berlaku bagi individu yang lahir setelah penyebaran teknologi digital dan yang tidak terpapar pada usia dini.

Berkembangnya teknologi bagi digital immigrant ini menjadi sebuah tantangan yang harus dilalui, karena bisa disebut  generasi yang sudah berumur maka kesulitan untuk berpindahpun sering dirasakan, misalkan mereka harus berpindah dari ponsel seperti batu bata pada tahun 1990an dengan antenna panjang dan  baterai cadangan yang memiliki tas sendiri lalu belajar menggunakan komputer berbasis MS DOS dan printer dot matrix.  Bahkan generasi digital immigrant yang dulu merasakan jika ingin berkomunikasi dengan seseorang yang berjarak jauh harus mengirimkan surat terlebih dahulu tetapi sekarang hanya  dengan mempelajari dan menggunakan internet dan email.

Berdasarkan wawancara saya dengan beberapa generasi digital  immigrant, mereka merasakan teknologi menimbulkan dampak pada perubahan perilaku termasuk perilaku pencarian informasi,  mengenal teknologi mulai diterapkan ketika  sudah tidak lagi muda tentu mereka harus benar-benar mempelajari teknologi untuk keberlangsungan kebutuhannya (misalkan pekerjaanya yang menuntut untuk melek teknologi) sehingga  mereka dituntut  untuk bisa menggunakan teknologi selain computer seperti smart phone , tablet, GPS,email dan grup WhatsApp dll.  

Digital  immigrant merasakan dampak yang signifikan terhadap penglihatan, kurang tidur dan waktu istirahat hanya untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan teknologi,  tetapi mereka tidak mempukuri teknologi telah benar-benar mengubah hidupnya menjadi lebih baik karena bisa bekerja kapan saja dan dimana saja, lalu bisa selalu berhubungan dan memiliki informasi yang kita butuhkan di ujung jari.  Mereka merasa pekerjaan terselesaikan lebih cepat, lebih praktis, dan jauh lebih mudah. Dapat disimpulkan bahwa teknologi sudah banyak mempengaruhi kehidupan digital immigrant, mereka bisa survive  dalam pencarian informasi yang lebih cepat sehingga mereka merasakan peran teknologi bisa menjadi kebutuhan hidupnya sama halnya yang terjadi pada generasi digital native.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Isu-Isu kontemporer 3

Munculnya cyberchondria di era revolusi informasi

Di era revolusi informasi nilai kesejahteraan tergantung pada perkembangan sistem untuk merekam, mengumpulkan dan menyampaikan informasi masa lalu, era ini dikenal dengan istilah “no record, no history”  dengan demikian dapat dikatakan seseorang  dapat memproduksi informasi jauh lebih besar lagi. Revolusi informasi juga didukung dengan akses teknologi yang memudahkan seseorang mencari informasi dan mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi (cyberchondria).

Hiperhistory atau dikenal dengan seseorang yang memiliki ketergantungan dengan teknologi, sehingga munculnya sebuah penyakit yang dikenal dengan cyberchondria, istilah ini dikenal dengan sebuah penyakit yang tidak ditimbulkan oleh virus tetapi timbul karena prilaku pengindap penyakit itu sendiri.  Asal kata cyberchondria adalah cyber dan hipokondria istilah ini bersalah dari bahasa yunani artinya tulang rawan atau tulang dada. Ini bermaksud untuk mengatakan bahwa pengidap penyakit cyberchondria merendahkan segala macam informasi real karena cyberchondric cenderung lebih self-diagnosis.

Di dunia medis cyberchondria dipakai untuk menyebut orang-orang yang mengganggap dirinya sedang mengidap penyakit parah berdasarkan hasil berjelajah informasi melalui internet secara berlebihan. Sehingga, dunia kedokteran menyebut penyakit ini bahkan lebih berbahaya dibandingkan dengan penyakit yang sebenarnya yang sedang dihadapi oleh pasien tersebut. cyberchondria ini bahkan dapat mengancam kematian dikarenakan pengidap akan terus-menerus mencari infomasi penyakitnya di internet yang barang tentu informasi tersebut tidaklah benar. Pengidap penyakit ini biasanya sulit berinteraksi dengan dunia nyata dan selalu mengandalkan informasi di internet sebagai solusi diatas setiap permasalahannya.

Masyarakat hiperhistory memang seharusnya membatasi diri dalam mengakses informasi, karena akan membahayakan jika sudah ketergantungan dan bahkan lebih mempercayai bantuan teknologi dibandingkan profesi-profesi (misalnya dokter) yang mempunyai ilmu lebih dibidang kesehatan yang dapat mengdiagnosa penyakit lebih akurat, padahal informasi yang terdapat di internet hanya berdasarkan database penulisnya saja. Lalu, coba bertanya kepada diri masing-masing. Apakah kita sudah cenderung mengidap penyakit cyberchondria? 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Isu-isu kontemporer 1

PENERAPAN MANAJEMEN ASET INFORMASI DI PERPUSTAKAAN
   

Informasi berkembang seiring perkembangan teknologi, sehingga kebutuhan informasi dengan mudah didapatkan. Informasi dapat ditemukan dimana saja baik itu dari sumber cetak ataupun melalui dunia maya seperti informasi yang bisa didapatkan melalui teknologi internet. Informasi yang terkumpulkan menjadi pengetahuan seseorang secara pasti. Perpustakaan adalah sebuah lembaga atau wadah yang didalamnya terdapat beragam sumber informasi untuk disalurkan kepada pengguna sehingga menambah pengetahuan dan memenuhi kebutuhan informasi. Jenis perpustakaan ada beberapa macam seperti perpustakaan di sektor pendidikan,  pemerintah daerah. Perkantoran, perpustakaan desa dll. Jenis tersebut disesuaikan dengan letak geografis dari perpustakaan tersebut. Informasi yang disediakan oleh perpustakaan adalah aset yang sangat berharga bagi lembaga yang menaungi perpustakaan tersebut, adapun aset terbagi dalam dua jenis yaitu aset berwujud dan tidak berwujud. Beragam bentuk informasi terdapat di perpustakaan diajadikan asset yang harus dijaga dan dikelola dengan baik. Dengan perkembangan teknologi informasi dapat menjadi penunjang dalam tata kelola dan menjaga keamanan informasi  yang terdapat di perpustakaan. Teknologi yang berperan di dalam perpustakaan akan membantu dalam pengolahan dan penyebaran informasi yang ada. Tetapi, dengan adanya teknologi yang akan menyebarkan informasi tentu pustakawan harus memikirkan keamaan informasi tersebut. Keamanan harus menjadi perhatian khusus, sehingga pengunaan teknologi informasi dalam tata kelola informasi perpustakaan akan menjadi hal penting dalam menajemen asset informasi dari berbagai ancaman dan resiko. Menerapkan manajemen aset informasi di perpustakaan tidak bisa diterapkan begitu saja karena perlunya kesadaraan dari pengelola informasi dalam hal ini pustakawan dalam mengelola informasi untuk meningkatkan keamanan asset informasi yang ada.  Keamanan informasi pada umumnya didasari kepada ketersediaan informasi bagi yang membutuhkan dan keutuhan informasi yang tersedia tanpa ada perubahan dari pihak yang tidak berhak serta kerahasiaan aset informasi dari pihak yang tidak berwenang. Kerahasiaan aset informasi, dapat dilihat dari nilai aset informasi menjadi sangat berharga ketika informasi tersebut relevan dengan kebutuhan dan mempengaruhi pengambilan keputusan yang pada akhirnya informasi tersebut berharga tinggi.  Informasi perpustakaan bukan berasal dari informasi pengguna saja tetapi juga dari aset informasi bagi lembaga tersebut. Sangat sudah jelas aset informasi perpustakaan harus dikelola dengan baik dan memperhatikan keamanaan aset agar tidak mengurangi nilai informasi yang dibutuhkan sehingga tujuan memenuhi kebutuhan pemustaka dapat direalisasi dengan tepat sasaran.
Aset adalah segala sesuatu baik tangible maupun intangible yang memiliki nilai ekonomis (economic values) dan masa ekonomis (economic life) untuk mendukung organisasi atau perusahaan dalam memberikan layanan (services) (Quertani: 2008). Menurut Siswanto (2013) Pengertian aset adalah aktiva berwujud yang memiliki umur yang lebih panjang dari satu tahun. Pengertian Asset atau Aset yang telah di Indonesiakan secara umum adalah barang (thing) atau sesuatu barang (anything) yang mempunyai;
a. Nilai ekonomi (economic value),
b. Nilai komersial (commercial value) atau
    c. Nilai tukar (exchange value); yang dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha ataupun individu (perorangan).
Menurut Borroek (2014) Manajemen aset adalah serangkaian kegiatan yang terdiri dari indentifikasi aset apa yang dibutuhkan, memperoleh aset, menyediakan logistik dan sistem pendukung pemeliharaan dari aset dan penghapusan atau pembaharuan aset sehingga lebih efektif dan efisien. Dari hal tesebut dapat diketahui bahwa asset informasi adalah kegiatan yang di mulai dengan tahapan paling awal yaitu pengadaan aset, ketersediaan aset dan alat serta sistem yang mendukung untuk melindungi aset tersebut.

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karaya non cetak/ karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Maka dapat diketahui aset informasi perpustakaan adalah semua jenis informasi atau koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan tersebut, Aset perpustakaan tidak jauh berbeda dengan aset yang dimiliki oleh perusahaan, karena sama-sama memilki nilai. Aset informasi perpustakaan akan dianalisa, diidentifikasi dan dievaluasi nilai aset yang terkandung didalamnya dengan menggunakan beragam teori yang mendukung perencanaan aset informasi perpustakaan. Aset informasi perpustakaan terdapat dalam beragam bentuk fisik dan nonfisik. Aset informasi menurut The National Archive (2011:10) “An information asset is a body of information, defined and managed as a single unit so it can be understood, shared, protected and exploited effectively. Information assets have recognisable and manageable value, risk, content and lifecycles”. Aset informasi sebagai tubuh dari informasi yang mendefenisikan dan mengolah informasi agar dapat dipahami, dibagi, dilindungi dan dimanfaatkan secara efektif, aset informasi tersebut bernilai untuk dilindungi dari resiko dan ancaman serta dikelola konten dan siklus hidupnya. Manajemen informasi dalam siklus hidup penuhnya sebagai aset dan pengklasifikasi serta pengkatalogkan informasi sehingga informasi dapat ditemukan kembali dan digunakan.   Berikut siklus hidup aset informasi yang bisa diterapkan di perpustakaan dapat ditemukan di tautan berikut (https://integratedplanning.dlg.wa.gov.au/InfoManagementFramework.aspx) Berikut siklus hidup aset informasi: 


1.  Registration/ pendaftaran
        Pendaftaran adalah pencatatan aset informasi dalam repositori bertujuan untuk manajemen informasi misalnya, membuat Daftar Kekayaan/Aset Informasi. 

2. Klasifikasi Aset Informasi (Information Asset Classification)
        Klasifikasi aset informasi adalah susunan informasi dalam kelompok-kelompok atau kategori sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, seperti publik, sensitif, pribadi atau rahasia 

3. Metadata
      Metadata adalah data yang menggambarkan atribut aset informasi seperti nama file, penulis, judul, tanggal, subjek,danlokasi. 

4. Perwalian (Custodianship)
        Informasi perwalian adalah menugaskan tanggung jawab kepada seseorang (atau kelompok), yang memastikan bahwa aset informasi dengan tepat diidentifikasi dan dikelola di seluruh siklus hidupnya dan dapat diakses oleh pemangku kepentingan yg tepat.

          Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa siklus hidup manajemen aset informasi melalui 4 siklus yang bertujuan untuk tata kelola dan keamanan informasi agar sesuai dengan tujuan perpustakaan sebagai penyedia layanan informas. Pengaplikasian teknologi informasi dalam perpustakaan yaitu sistem informasi perpustakaan, sistem pengolahan dan penyebaran informasi. Sistem informasi mengelola aset informasi perpustakaan yang akan disebarkan kepada pengguna perpustakaan melalui teknologi. Penggunaan teknologi Informasi Komputer adalah hal yang paling mudah dalam pengolahan dan penyebaran informasi. Manjemen aset informasi di perpustakaan adalah sebuah upaya agar terciptanya keteraturan  dalam pengelolaan bahan perpustakaan baik cetak  maupun non cetak dengan tata kelola menggunakan siklus hidup aset informasi sehingga menjadikan aset perpustakaan dapat digunakan secara maksimal oleh pemustaka yang membutuhkan informasi serta mengamankan aset informasi perpustakaan dengan antisipasi penangulangan terjadi sesuatu yang buruk sedini mungkin.

Daftar Pustaka

Borroek, Maria Rosario.2014. Perancangan Sistem Informasi Manajemen Aset Pada Stikom Dinamika Bangsa Jambi. Jambi : Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Dinamika Bangsa Jambi.


Quertani, Mohamed Zied, et al., “Towards An Approach To Select An Asset Information Management Strategy” dalam International Journal Of Computer Science And Applications, 2008, vol. 5, no. 3b.

Siswanto. Slamet Dan Edy Mulyanto. 2013. Sistem Informasi Manajemen Aset Pada Universitas Muria Kudus. Program Pascasarjana Magister Teknik: Jurnal Teknologi Informasi, Volume 9 Nomor 1, April 2013, ISSN 1414-9999.


Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan. Indonesia.


The National Archives. 2011. Identifying Information Assets and Business Requirements http://www.nationalarchives.gov.uk/documents/information-management/identify-information-assets.pdf (Diakses 31 Mei 2017)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Manajemen Desain Sesi ke Enam



MEMAKSIMALKAN FUNGSI REKREASI PERPUSTAKAAN DENGAN MEMAKAI RAMBU-RAMBU PERPUSTAKAAN YANG TEPAT DAN SARANA YANG ERGONOMI


Salah satu fungsi perpustakaan adalah sebagai tempat rekreasi, dengan demikian diketahui bahwa perpustakaan dapat dimanfaatkan sebagai sarana tempat hiburan yang beredukasi sehingga ketika pemustaka mencari sumber informasi dianggap hal yang menyenangkan di perpustakaan. Disamping itu untuk mewujudkan hal tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan, rekreasi identik dengan sebuah tempat yang terdapat unsur keindahan atau estetika di dalamnya. Keindahan di perpustakaan akan terwujud selain dengan memperhatikan desain gedung, tetapi dengan memperhatikan hal-hal kecil lainnya seperti membuat rambu-rambu yang tepat dan sarana yang ergonomi. Salah satu  misalnya tentang memakaian rambu-rambu yang efektif (Priyanto: 2017) sebagai berikut :
1.      Harus ada template
Menggunakan template yang jelas akan menarik perhatian pemustaka ketika membaca rambu-rambu tersebut.
2.      Bahasa terkontrol
Dalam membuat rambu-rambu di perpustakaan sebaiknya menggunakan bahasa yang formal serta baku sesuai dengan bahasa nasional ataupun internasional.
3.      Cantumkan logo perpustakaan
Agar rambu-rambu yang dipasangkan dapat dikenali identitas instansi yang membuatnya maka sangat penting untuk mencantum logo perpustakaan.
4.      Tentukan warna khas perpustakaan
Menentukan warna khas suatu perpustakaan sangat dianjurkan karena itu bisa menjadi identitas suatu perpustakaan agar dapat dikenali.
5.      Tentukan jenis dan ukuran font
Dalam membuat rambu-rambu pustakawan juga harus memperhatikan jenis dan ukuran font yang digunakan, karena ukuran yang yang terlalu kecil atau kebesaran juga akan mengurangi estetika di sebuah rambu-rambu yang dipasangkan.
6.      Perlu ada tim khusus dan aturan khusus dalam membuat rambu-rambu
Dengan dibentuknya tim khusus yang bertugas membuatkan rambu-rambu ini akan mempermudah dalam mengkoordinasikan desain rambu-rambu seperti apa yang digunakan oleh  perpustakaan tersebut. 
Selain rambu-rambu yang efektif  harus diperhatikan, hal yang sebaiknya diperhatikan lainnya adalah sarana dan prasarana yang ergonomi. Seperti pendapat Rahayuningsih (2007) “beberapa unsur yang terlibat didalam pengelolaan perpustakaan adalah sumber daya manusia, penggguna, sarana dan Prasarana, dan fasilitas pendukung perpustakaan”. Meja yang digunakan di perpustakaan bersifat ergonomi adalah sebagai berikut :
1.      Sesuai atau pas untuk penggunanya
2.      Mudah digunakan
3.      Meningkatkan kenyamanan
4.      Meningkatkan kinerja
5.      Meningkatkan kesehatan dan keamanan
6.      Bukan sekedar nampaknya tetapi juga kualitasnya
Sedangkan kursi yang ergonomi adalah :
1.      Pendukung lumbar (low back) yang baik
2.      Tempat duduk yang nyaman setidaknya dua jam
3.      Kursi memiliki 5 point base
4.      Sandaran tangan dapat diatur/tanpa sandaran tangan
5.      Bisa diatur saat diduduki
6.      Ketinggian dan kedalaman tempat duduk sesuai.

     Secara keseluruhan ergonomi perpustakaan memperhatikan beberapa hal seperti memperhatikan tempat duduk pustakawan, memperhatikan tempat duduk pemustaka dan memperhatikan penggunaan teknologi perpustakaan. Diharapkan dengan memakai rambu-rambu perpustakaan yang efektif serta memperhatikan ergonomi sarana dan prasana perpustakaan dapat menunjang fungsi perpusakaan sebagai tempat rekreasi yang menarik bagi pemustaka. 

Daftar Pustaka :
F. Rahayuningsih. 2007. Pengelolaan Perpustakaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Priyanto, Ida Fajar. 2017. Materi Mata Kuliah Manajemen Disain dan Perpustakaan. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS