Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Manajemen dan Desain Perpustakaan Sesi Kedua







MENGENALI PENDIDIKAN PEMUSTAKA (USER EDUCATION) PADA GENERASI KEDUA PERPUSTAKAAN

 oleh Rahmita Sari





Zaman terus berkembang segala sesuatu menjadi perhatian untuk terus maju mengikuti perkembangan zaman, begitupun dengan perpustakaan. Perpustakaan adalah sebuah instansi yang dapat bergerak menjadi lebih baik. Dilihat dari perkembangan perpustakaan yang ada maka terdapat lima generasi perpustakaan, dimana generasi tersebut merujuk kepada kronologi waktu (Priyanto: 2017). Salah satunya terjadi di generasi kedua, yaitu “Client Focused” pada generasi ini perpustakaan tidak lagi hanya berfokus kepada koleksinya, akan tetapi memasuki ranah pemerhati pengguna perpustakaan atau yang dikenal dengan sebutan pemustaka. Hal ini juga erat kaitannya dengan layanan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Akan tetapi, pustakawan sering kali lupa bahwa ada sebagian pengguna baru yang tidak berlatar belakang ilmu perpustakaan tentu tidak semua dari mereka yang bisa mengakses informasi di perpustakaan tanpa petunjuk yang jelas. Kasus ini sering terjadi di perpustakaan sebuah instansi contohnya di perpustakaan yang terdapat di sekolah atau perguruan tinggi, yang mana pemustaka pemula adalah siswa atau mahasiswa baru yang sama sekali belum pernah mengakses koleksi yang terdapat di perpustakaan tersebut. Kegiatan layanan merupakan hal utama yang harus diperhatikan di suatu perpustakaan, karena melalui pelayananlah pustakawan dan pemustaka berinteraksi secara langsung. Salah satu pelayanan yang sebaiknya diadakan di sebuah perpustakaan adalah kegiatan user education atau pendidikan pengguna, kegiatan User Educaton merupakan salah satu pelayanan yang sebaiknya diadakan di sebuah perpustakaan  yang meliputi LO ( Library Orientation) dan BI (Bibliographic Instruction). Menurut Rahayuningsih (2007, hlm. 85) “kegiatan layanan merupakan kegiatan yang mempertemukan langsung antara pustakawan dengan pemustaka, sehingga penilaian pengguna akan muncul ketika kegiatan layanan tersebut dilangsungkan”. Layanan di perpustakaan berupa layanan koleksi, fasilitas yang memadai, dan jasa lainnya yang diberikan kepada pengguna perpustakaan. Salah satu bentuk jasa pengguna yang disediakan di suatu perpustakaan adalah kegiatan User Education (UE).    Melihat hal tersebut, pada generasi ini perpustakaan sudah seharusnya melakukan kegiatan pengenalan atau biasa di sebut pendidikan pemustaka (user education).  User Education (UE) merupakan istilah lain dari pendidikan pengguna atau pendidikan pemakai. Istilah ini kerap kali digunakan sebagai bentuk Pengenalan dan bimbingan yang diberikan oleh pemustaka kepada calon pemakainya. Pengguna baru sangat dianjurkan untuk mengikuti UE ini. Kegiatan User Education bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada pemustaka bagaimana caranya memanfaatkan perpustakaan dengan maksimal. Dengan dilaksanakannya  kegiatan ini diharapkan pemutaka akan tertarik dan kemudian memanfaatkan perpustakaan (Nusanta: 2012). Karena dengan diterapkan kegiatan UE ini pengguna baru diharapkan dapat mengetahui sumber-sumber infomasi, lebih memanfaatkan koleksi perpustakaan dan lebih disiplin ketika berkunjung ke perpustakaan





Daftar Pustaka 


Nusantari, Anita, MM, Strategi pengembangan perpustakaan. (2012). Jakarta : Prestasi pustaka.



Priyanto, Ida Fajar. 2017. Materi Mata Kuliah Manajemen Disain dan Perpustakaan. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.



Rahayuningsih, F. (2007). Pengelolaan perpustakaan.. Yogyakarta : Graha Ilmu




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peran Pustakawan Dalam Inovasi Perpustakaan


Tak jarang masyarakat pada umumnya mengenal perpustakaan adalah sebuah bangunan yang berdiri kokoh dimana didalamnya terdapat sumber-sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan sebagai rujukan dalam pencarian sebuah informasi. Paradigma tersebut sejatinya harus menjadi bahan pemikiran serius bagi pustakawan untuk mengsiasati pertumbuhan kelayakan sebuah perpustakaan untuk dapat menarik perhatian masyarakat ketika mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan diharapkan tidak hanya sebagai tempat pencarian informasi dimana seseorang ketika membutuhkan informasi yang diinginkan saja datang berkunjung, akan tetapi perpustakaan diharapkan dapat memberi daya tarik tersendiri sehingga seseorang merasa nyaman dan menganggap perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Pada era teknologi yang semakin canggih dan modern ini tentu masyarakat beralih perhatian mengakses informasi yang dapat mengefesienkan waktunya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Jika demikian, sudah waktunya perpustakaan berbenah ke arah yang lebih baik. Pustakawan harus giat dan cepat dalam mengatasi situasi yang ada. Seperti pendapat Almah (2013) perpustakaan sebagai lembaga pengelola informasi dan kebutuhan informasi perlu mengadakan penyesuaian dalam menghadapi perubahan tersebut. Dari pendapat tersebut dapat kita lihat peran pustakawan sangat penting dalam melakukan inovasi perpustakaan.
            Pustakawan harus jeli melihat perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat untuk memajukan perpustakaan yang dikelolanya, pustakawan diwajibkan mampu melihat dari berbagai aspek untuk memajukan perpustakaan agar mampu menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi. Seperti yang jabarkan oleh Rajagukguk (2009) konsekuensi dari terjadinya perubahan dalam paradigma perpustakaan mengharuskan perlunya keberanian dari para pengelola perpustakaan untuk melakukan inovasi dan pembaruan-pembaruan dalam mengelola perpustakaan.  Sifat kreatifitas seorang pustakawan nampaknya dituntut dalam hal ini, pustakawan harus membuka mata dan pikirannya untuk dapat mencari celah agar dapat membuat ide-ide baru untuk mengembangkan pelayanan di perpustakaan. Adapun ide-ide tersebut dapat muncul dari mana saja baik itu dari dalam lingkup ilmu perpustakaan maupun dari luar lingkupan ilmu perpustakaan. Berikut adalah beberapa ide yang bisa dijadikan inovasi baru dalam sebuah perpustakaan:
a.       Keramahan Pelayanan nasabah di bank
Masyarakat pada umumnya sudah banyak mengetahui bahwa pelayanan di bank cukup baik dan memuaskan. Pegawai bank selalu tersenyum melayani nasabahnya ketika berinteraksi. Hal ini bisa saja diterapkan di perpustakaan, pustakawan lebih mementingkan kenyamanan pemustaka dengan ramah dan tersenyum ketika membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan ini bisa jadi membuat pemustaka betah untuk berkunjung ke perpustakaan.

Gambar 1 : Contoh pelayanan di bank

b.      Rak perpustakaan yang berbentuk unik
Seperti yang selama ini kita ketahui bahwa di perpustakaan terdapat rak-rak yang berjejer hingga memenuhi setiap ruangan yang ada di perpustakaan, menginovasi rak perpustakaan dengan bentuk lain bisa saja menarik perhatian pemustaka sehingga pemandangan didalam ruangan tidak monoton dan membosankan. Bentuk-bentuk rak tersebut bisa dibuat melengkung seperti seluncuran anak-anak, di pasang lampu-lampu yang mengalihkan perhatian seperti di toko sepatu, rak berbentuk miring dll.
Gambar 2 : Contoh kreatifitas rak buku perpustakaan

c.       Pewarnaan sarana/prasana yang tepat
Warna akan memberi dampak pada mood atau suasana hati seseorang, dengan memberi sentuhan warna yang cerah dan halus akan menyegarkan pemandangan seseorang dan membawa seseorang kepada hal yang menyenangkan dan menenangkan. Jika perpustakaan tersebut adalah sebuah perpustakaan yang cukup besar, maka memberian warna dapat dengan berbagai warna yang berbeda disesuaikan dengan fungsi serta kegunaan dari setiap ruangan tersebut. Begitupun sebaliknya jika perpustakaan tidak terlalu besar pustakawan dapat mengatur dengan warna yang lebih lembut sehingga terkesan ruang tersebut lebih besar. Tidak hanya warna dan suasana ruangan saja yang harus diperhatikan akan tetapi warna sarana dan prasana perpustakaan lainnya juga harus diperhatikan, misalnya warna rak, meja, kursi dan lemari dll.


Gambar 3: Contoh pewarnaan sarana dan prasarana perpustakaan

d.      Pelayanan seperti cafe
Salah satu fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi bisa diwujudkan pustakawan melalui memberikan pelayanan lebih dengan menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan oleh pemustaka saat membaca seperti kacamata, handphone charger, music tape, handsfree, dan perlengakapan tulis. Selain itu, pelayanan seperti cafe bisa juga diterapkan di perpustakaan misalkan dengan menyediakan makanan coffee break di jam-jam tertentu, serta perpustakaan juga bisa menerapkan pelayanan seperti café lainnya dengan mengalunkan music klasik di perpustakaan tentu di ruangan-ruangan yang memungkinkan saja.

Gambar 4 : Contoh café di sebuah perpustakaan

e.       Membuat agenda atau acara tertentu
Perpustakaan hendaknya juga membuat semacam promosi untuk meningkatkan presentase kunjungan agar lebih baik lagi, dengan mengadakan agenda atau acara tertentu sangat berpengaruh kepada tingkat ketertarikan seseorang untuk mengunjungi perpustakaan. Agenda atau acara tersebut bisa saja berupa agenda atau acara besar seperi melakukan bazar buku beserta konser musik secara berkala, seminar kepenulisan karya ilmiah, bedah buku dengan penulis dll. Akan tetapi, agenda atau acara tersebut juga bisa berupa hal yang kecil misalkan merayakan hari buku internasional/nasional dengan membagi-bagi sedikit hadiah, pustakawan memakai  pakaian-pakaian tertentu di hari-hari tertentu yang sedang viral ditengah masyarakat dll.

Gambar 5 : Contoh acara bazar buku di perpustakaan

Ide-ide diatas bisa diterapkan di perpustakaan dengan menyesuaikan kondisi yang ada di masing –masing perpustakaan. Pustakawan harus memanfaatkan setiap ruang dan momentum agar terus bisa berkreasi dalam mewujudkan inovasi di tengah maraknya persaingan ledakan informasi yang terus berkembang. Menurut Nashihuddin (2015) agar ide inovasi perpustakaan menjadi suatu program yang ‘real’ dan dapat dirasakan manfaatnya oleh pengguna atau masyarakat, maka pustakawan atau pimpinan lembaga perlu mempersiapkan sumberdaya yang memadai dan mengindentifikasi kebutuhan informasi secara cermat. Dengan demikian diharapkan perpustakaan dapat berinovasi dengan baik berkat kerjasama semua unsur yang terdapat didalamnya, terutama pustakawan itu sendiri. Karena pustakawan adalah ujung tombak berinovasinya sebuah perpustakaan ke arah yang lebih baik lagi.


DAFTAR PUSTAKA
Almah, Hildawati. 2013. Membangun Inovasi Diperpustakaan Perguruan Tinggi Melalui Konsep KM (Knowledge Management).  Gowa : UIN Alaludin.

https://beritaperpustakaan.wordpress.com/2011/12/22/10-rak-buku-perpustakaan-unik/ Diunduh pada tanggal 17 Januari 2017.

https://dhicovelian.wordpress.com/tag/perpustakaan-modern/ Diunduh pada tanggal 17 Januari 2017.


http://gunungrizki.com/bank-yang-baik-harus-memiliki-pelayanan-yang-baik-part-1/ . Diunduh pada tanggal 17 Januari 2017.

Nashihuddin, Wahid. 2015. Strategi inovatif promosi perpustakaan di era digital.

Rajagukguk, Agatha Rebecca. 2009. Inovasi dan kreatifitas layanan penelusuran, penggunaan internet dan jurnal online pada Perpustakaan Universitas Sumatera Utara. Medan : Universitas Sumatera Utara.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENGHIDUPKAN KEJADIAN MASA LALU LEWAT AKSES INFORMASI YANG TEREKAM DALAM ARSIP STATIS

Summary Artikel  berjudul : MENGHIDUPKAN KEJADIAN MASA LALU LEWAT AKSES INFORMASI YANG TEREKAM DALAM ARSIP STATIS

Artikel oleh : Triana Widyaningrum
Summary oleh : Rahmita Sari


Dalam artikel ini membicarakan hal bahwa setiap kejadian masa lalu membutuhkan dukungan keakuratan fakta yang terjadi sebenarnya. Fakta tersebut dapat diperoleh dari dukungan informasi yang akurat. Salah satu dukungan informasi tersebut adalah arsip. Arsip tidak akan lepas dari informasi tentang masa lalu dan arsip memungkinkan mempunyai relevansi dengan masa yang akan datang. Jumlah data dan informasi masa lalu di Indonesia mempunyai kaitan yang sangat besar untuk seseorang yang akan melihat  kenyataan-kenyataan masa lampau untuk dihidupkan kembali melalui arsip sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya. Untuk mengetahui arsip tersebut perlu adanya kemudahan akses yang berkaitan dengan keterbukaan arsip (openbaarheid). Akan tetapi, hal tersebut masih sulit dilakukan karena perkembangan teknologi yang berakibat pada volume informasi . Ledakan informasi ini membawa perubahan besar pada dunia kearsipan, variasi arsip banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Arsip dengan segala banyak media yang tersimpan di depot penyimpanan arsip merupakan memori bangsa yang merupakan kekuatan bangsa itu sendiri, dengan demikian perlu adanya dukungan akses pada koleksi dan layanan arsip untuk bangsa mengetahui jati diri bangsa. Akses informasi tersebut berkaitan dengan keterbukaan arsip. Akses yang terbuka dapat diberikan untuk informasi yang terekam dalam arsip statis baik di pusat maupun di daerah yang berada di bawah tanggungjawab ANRI namun tetap ada batasan-batasan untuk pertimbangan tertentu. Kebijakan akses arsip seharusnya sudah dipikirkan sejak adanya proses akuisisi dari Lembaga Pencipta kepada lembaga yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan arsip statis. Aturan kebijakan arsip berbeda disetiap Negara, kebijakan keterbukaan arsip tersebut dapat dilakukan dengan beberapa pertimbangan antara lain : Pengaturan yang relevan, kerahasiaan arsip, perlindungan terhadap privacy, aturan pembatasan akses oleh lembaga pencipta, kesamaan akses terhadap arsip, tingkatan control terhadap arsip, kondisi fisik arsip, dan pembiayaan. Kebajikan tersebut merupakan kebijakan akses yang diatur secara internal sesuai dengan kondisi Negara masing-masing. Jadi, didalam artikel ini cukup baik sebagai pertimbangan kebijakan arsiparis untuk membuka akses pada yang membutuhkan rekam arsip dalam menghidupkan informasi yang telah terjadi dimasa lalu melalui  akses terhadap arsip statis.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN USER EDUCATION DENGAN PEMBERDAYAAN PEMUSTAKA MENGAKSES RESOURCES



 
KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN USER EDUCATION DENGAN PEMBERDAYAAN PEMUSTAKA MENGAKSES RESOURCES
(Studi Deskriptif pada Mahasiwa Baru FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia)
Rahmita Sari
Doddy Rusmono1
Hana Silvana2
Program Studi Perpustakaan dan Informasi
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia


ABSTRAK

Penelitian ini berlatar belakang kurangnya pengetahuan mahasiswa baru tentang seluk beluk perpustakaan, sehingga berbagai jenis dan bentuk resources tidak termanfaatkan secara maksimal.  Pokok masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah keterkaitan antara kegiatan User education dengan pemberdayaan pemustaka dalam mengakses resources. Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu kegiatan User education dan pemberdayaan pemustaka. Kegiatan User education diukur oleh tiga sub variabel yaitu pengetahuan mengenai resources, pemanfaatan resources, dan kedisiplinan pemustaka. Pemberdayaan pemustaka diukur oleh satu sub variabel yaitu kemampuan pemustaka. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh mahasiswa baru angkatan 2014 FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dengan sampel yang diambil sebanyak 88 mahasiswa baru. Teknik sampling menggunakan Purposive Random Sampling, dengan rumus Yamane. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket tertutup dengan skala Likert yang dibagi menjadi 5 kategori dengan analisis korelasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa terdapat keterkaitan yang signifikan antara kegiatan User education dengan pemberdayaan pemustaka dengan kategori sedang. Secara garis besar pemberdayaan pemustaka mengakses resources pada mahasiswa baru FPMIPA UPI dalam kategori cukup baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat digambarkan bahwa pengetahuan mengenai resources  pada mahasiswa baru FPMIPA dalam kategori cukup baik, untuk pemanfaatan resources oleh mahasiswa baru  FPMIPA dalam kategori cukup baik, dan untuk kedisiplinan pemustaka pada mahasiswa baru FPMIPA dengan kategori baik.
Kata Kunci      : Kegiatan User education, Pemberdayaan, Akses,  Resources.

ABSTRACT
Background to the present study is the knowledge of students to maximize their search to find information from the resources available. Issue to the topic of discussion includes facts on interrelation between UE and user empowerment of accessing resources. This study consists of two variables, namely education activities and user empowerment. User education is measured by three sub variables, namely user’s knowledge on resources, benefiting of resources, and user disciplinary. User empowerment is measured by one sub variables, namely user ability. The population of this study is all newly Enrolled Student of FPMIPA, Indonesia University of Education batch of 2014 academic year, with samples taken as many as 88 students. Sampling techniques used is Purposive Random Sampling with Yamane Formula. The research method used descriptive method with quantitative approach. The data collection technique used questionnaires with closed Likert scale of five categories and with correlation analysed. The research results in interrelation of significant link between activities of User Education  with user empowerment of newly Enrolled Student into the category of sufficient when accessing the resources available. User education empowerment of the new student falls falling into the category of Medium. In terms of user’s resources knowledge on resources of the newly enrolled student FPMIPA falls into the category of sufficient when benefiting the resources. As for the user’s disciplinary, it falls into the category of adequate.
Keywords: User education, Empowerment, Access, Resources.
                                                                                               


Salah satu bidang yang terus diupayakan untuk berkembang di negara Indonesia adalah bidang pendidikan. Untuk mewujudkan hal ini Indonesia mencantumkan didalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas). Pasal 1 menyebutkan bahwa:
 “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unit pelaksana teknis yang sama-sama dengan unit lain melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan menghimpun, memilih, mengolah, merawat serta melayankan sumber informasi kepada lembaga induk khususnya dan masyarakat akademis pada umumnya (Dirjen DIKTI, 1994, hlm. 3). Untuk memberikan pengenalan tentang adanya sebuah perpustakaan di sebuah perguruan tinggi maka diperlukan pengenalan perpustakaan dalam bentuk User Education (UE) atau pendidikan pengguna perpustakaan kepada para calon pemakai perpustakaan atau pemustaka. Pustakawan bisa memunculkan berbagai usaha untuk tetap menghidupkan perpustakaan perguruan tinggi yang salah satunya  adalah dengan melakukan kegiatan User Education untuk mahasiswa baru. Kegiatan UEdiadakan untuk memberdayakan pemustaka dalam mengakses resources yang telah disediakan oleh Perpustakaan perguruan tinggi.
Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) adalah salah satu Perpustakaan perguruan tinggi yang telah melaksanakan kegiatan User Education  (UE) pada setiap tahunnya. UE dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru, tahun ajaran 2014/2015 ini UE telah dilaksanakan  pada tanggal 18 September 2014. Kegiatan UE wajib dihadiri oleh setiap mahasiswa baru UPI, sasaran kegiatan ini adalah mahasiswa baru 2014 di Universitas Pendidikan Indonesia yaitu Fakutas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam  (FPMIPA), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB), Fakultas Pendidikan Teknik Kejuruan (FPTK), Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) dan Fakultas Bahasa dan Sastra (FPBS) dengan mengirimkan beberapa staf perpustakaan ke masing-masing fakultas untuk memberikan materi UE pengetahuan mengenai Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia.
Kegiatan User education yang terdapat di Perpustakaan UPI hanya terdapat satu macam yakni dengan menggunakan metode seminar dengan penyajian materi  yang bersifat kognitif berupa pengetahuan mengenai peraturan yang diterapkan di Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia, 13 jenis layanan yang ada diperpustakaan, cara temu balik informasi, cara mengakses resources seperti e-journal, e-book, e-magazine dll, dan cara menggunakan fasilitas yang telah disediakan di Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia lainnya seperti Open Public Access Catalog (OPAC), Multy Puspose System (MPS), dan Bookdrop.
Penulis memilih Penelitian dilakukan pada mahasiswa baru di Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) di Universitas Pendidikan Indonesia. Ini dikarenakan bahwa melihat kegiatan user education yang telah dilakukan oleh pustakawan Perpustakaan UPI ke masing-masing fakultas diatas mahasiswa di FPMIPA adalah peserta yang paling antusias mengikuti kegiatan UE, ini dilihat dari jumlah peserta FPMIPA terbanyak jika dibandingkan dengan jumlah peserta di fakultas lainnya yang mengikuti kegiatan User Education.
Melihat dari kegiatan UE yang telah dilaksanakan oleh pihak Perpustakaan UPI seharusnya mahasiswa baru telah memiliki pengetahuan yang banyak tentang perpustakaan termasuk salah satunya dalam mengakses resources. Tetapi pada kenyataannya, menurut observasi awal yang telah dilakukakan peneliti, mahasiswa baru UPI masih banyak yang  bertanya kepada pustakawan pada saat hendak mengakses resources di perpustakaan, dan minimnya kedisiplinan mahasiswa baru saat berkunjung ke Perpustakaaan Universitas Pendidikan Indonesia padahal hal tersebut sudah di paparkan oleh pustakawan saat melakukan kegiatan UE.
Pustakawan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah melaksanakan kegiatan pendidikan pemustaka atau yang sering disebut kegiatan User Education pada tiap tahunnya untuk mahasiswa baru UPI, dan seharusnya mahasiswa baru sudah terberdayakan dalam mengakses sumber-sumber informasi (resources) yang disediakan di Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Permasalahan ini ditemukan penulis ketika mewawancarai beberapa mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia pada tanggal 22 September 2014. Dari wawancara yang telah dilakukan tersebut peneliti dapat menemukan kenyataannya masih banyak mahasiswa baru yang belum memanfaatkan koleksi yang disediakan di perpustakaan. Hal ini disebabkan karena mahasiswa baru UPI  tidak mengetahui jenis-jenis layanan yang terdapat di Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia.
Selain kurangnya pengetahuan mahasiswa baru didalam mengakses resources berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis pada tanggal 8 Oktober 2014 di perpustakaan, terlihat  mahasiswa baru masih kebingungan dalam menggunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan di Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia. Selain ditemukan permasalah diatas penulis juga melakukan wawancara langsung dengan salah seorang pustakawan Perpustakaan UPI, beliau menyatakan bahwa mahasiswa baru sering melanggar peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak pustakawan.
Dari uraian di atas peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian mengenai keterkaitan kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka mengakses resources pada mahasiswa baru Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia, artinya adanya keterkaitan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka didalam mengakses resources.
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1.         Masalah umum :
Bagaimana keterkaitan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan  pemustaka mengakses resources?           
2.   Masalah Khusus
a.   Bagaimana  gambaran pengetahuan mahasiswa baru mengenai sumber-sumber informasi (resources) ?
b. Bagaimana gambaran pemanfaatan sumber-sumber informasi (resources) yang dilakukan mahasiswa baru?
c. Bagaimana gambaran kedisiplinan mahasiswa baru ketika berkunjung ke Perpustakaan?
Tujuan umum penelitian ini adalah  untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara  kegiatan User Education dengan  pemberdayaan pemustaka mengakses resources. Sedangkan tujuan khusus dari masalah yang di teliti adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswa baru mengenai sumber-sumber informasi.
2. Untuk mengetahui gambaran pemanfaatan sumber-sumber informasi yang dilakukan mahasiswa baru.
3. Untuk mengetahui gambaran kedisiplinan mahasiswa baru ketika berkunjung ke Perpustakaan.
Perpustakaan berperan penting dalam mendukung proses pembelajaran lembaga yang menaunginya, karena didalam perpustakaan terdapat sejumlah informasi yang dapat membantu seseorang untuk menyelesaikan permasalahan dan  kebutuhan informasi yang ingin ia peroleh (Hermawan dan Zen, 2006, hlm. 12).
            Perpustakaan perguruan tinggi merupakan salah satu unit pelaksana teknis di perguruan tinggi dengan tugas pokoknya sebagai pengolala informasi ilmiah secra efektif dan efisien untuk menunjang pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi  (Rusdihanto, 2012, hlm. 10).
Perpustakaan merupakan unsur penunjang perguruan tinggi. Secara harfiah, unsur penunjang dapat diartikan sebagai sesuatu yang harus ada untuk kesempurnaan  proses pembelajaran pada suatu lembaga pendidikan. Kegiatan layanan merupakan hal utama yang harus diperhatikan di suatu perpustakaan, karena melalui pelayananlah pustakawan dan pemustaka berinteraksi secara langsung. Salah satu pelayanan yang sebaiknya diadakan di sebuah perpustakaan adalah kegiatan user education atau pendidikan pengguna, kegiatan User Educaton merupakan salah satu pelayanan yang sebaiknya diadakan di sebuah perpustakaan  yang meliputi LO ( Library Orientation) dan BI (Bibliographic Instruction).
Menurut F. Rahayuningsih ( 2007, hlm. 123) mengemukakan User Education atau pendidikan pengguna adalah:
“kegiatan yang dirancang untuk mendidik pengguna agar mengetahui sumber-sumber informasi perpustakaan yang terdiri dari koleksi, fasilitas, dan jasa perpustakaan, mendidik pengguna dalam memanfaatkan sumber-sumber informasi secara tepat dan cepat, serta mendidik pengguna perpustakaan untuk menjadi pengguna yang tertib dan bertanggung jawab.”
Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa User Education adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan untuk calon pemustaka agar dapat mengetahui resources yang disediakan perpustakaan, serta mendidik calon pemustaka agar bisa memanfaatkan resources tersebut secara maksimal dan mendidik pemustaka untuk disiplin ketika berkunjung ke perpustakaan tersebut.
Menurut Okoye ( 2013, hlm. 4) “Every university library prides itself of the usability of its resources and to ensure that these resources effectively utilized calls for library user education. To remain focused, there is the need to state objectives of the instruction.”
Pendapat ini menunjukkan bahwa suatu kebanggaan  bagi perpustakaan perguruan tinggi dengan keterpakaian koleksi yang telah disediakan dan untuk  memastikan keefektifan keterpakaian koleksinya dengan melakukan user education.
Pendapat lain mengenai User Education dikemukakan oleh Fjallbrandt ( 1984, hlm. 23) :
“Goals and objectives can be divided, for purposes of convenience, into three main groups-cognitive, affective, and psychomotor. In library user education, the objectives are to be found mainly in the cognitive and affective domain”.
Dari pendapat Fjallbrandt diatas dapat diketahui tujuan dan sasaran bisa dibagi berdasarkan waktu yang dibutuhkan, yaitu  dibagi kedalam tiga golongan yaitu kogniktif, afektif dan psikomotor. Didalam perpustakaan, tujuan utama kegiatan User Education adalah untuk mencapai kognitif dan afektif pemustaka dalam memanfaat koleksi perpustakaan.
Sebagaimana menurut Sutarno NS (2004, hlm. 95) memaparkan bahwa fungsi User Education adalah :
a.    Pemustaka dapat mengenal dan memahami serta menggunakan sistem yang diberlakukan di perpustakaan tersebut.
b.    Pemakai perpustakaan dapat menggunakan sarana temu informasi yang tersedia seperti kode/nomor klasifikasi, kartu katalog dan petunjuk lainnya.
c.    Pemakai perpustakaan dapat dengan cepat dan tepat menemukan apa yang diperlukan, tanpa banyak membuang waktu, tidak menemui kesulitan atau hambatan.
d.   Perpustakaan dapat memperluas jangkauan pemakaian koleksi oleh pengunjung dan anggota perpustakaan.
e.    Perpustakaan dapat mengembangkan citra perpustakaan sebagai bagian dari lembaga pendidikan.
Dari pendapat diatas dapat diketahui bahwa fungsi perpustakaan secara umum adalah agar pemustaka dapat mengetahui tentang layanan perpustakaan serta memanfaatkan koleksi perpustakaan secara efektif dan efisien serta dapat memberi kesan positive kepada perpustakaan sebagai penunjang yang dapat membantu dalam proses pembelajaran yang berlangsung.
Menurut Rahayuningsih (2007, hlm. 126) “metode yang digunakan dalam program User Education perpustakaan tergantung kepada situasi belajar mengajar, materi yang disampaikan, dan tingkat penggunanya”.
Menurut Mardikanto (2013, hlm. 33) “Pemberdayaan atau empowerment diartikan sebagai proses peningkatan optimis kemampuan atau produktivitas, individu, organisasi, ataupun sistem”. Sementara Menurut Shardlow  (dalam Riza, 2006, hlm. 2). mengatakan pada intinya :“pemberdayaan membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.” Lebih lanjut Parsons (dalam Riza, 2006, hlm. 2) mengatakan bahwa:
 “Pemberdayaan merupakan sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagi pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap, kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.”
Pemberdayaan merupakan kemampuan seseorang untuk dapat memiliki akses terhadap sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan; dan berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.
Selanjutnya menurut Anwas (2013, hlm. 49) “pengertian pemberdayaan (empowerment) tersebut menekankan pada aspek pendelegasian kekuasaan, memberi wewenang, atau pengalihan kekuasaan kepada individu atau masyarakat sehingga mampu mengatur diri dan lingkungannya sesuai dengan keinginan, potensi, dan kemampuan yang dimilikinya”.
Pemberdayaan dilakukan agar individu mampu untuk berpartisipasi dan memiliki peningkatan keterampilan dalam melakukan sesuatu. Pemberdayaan dapat memegang teguh prinsip-prinsip sebagai acuan dalam pelaksanaannya.
METODE
Metode yang digunakan didalam penelitian ini adalah metode deskriptif studi korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2014, hlm. 13) metode kuantitatif merupakan “metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/emiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis”.
Selanjutnya sugiyono mengemukakan  (2013, hlm. 228). “teknik korelasi ini digunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan dua variabel bila data kedua variabel berbentuk interval dan ratio dan sumber data dari dua variabel atau lebih tersebut adalah sama”.
                 Melihat pendapat di atas dapat diketahui bahwa pendapat di atas sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat hubungan antara variabel X (kegiatan UE ) dengan variabel Y (pemberdayaan pemustaka). Metode ini melihat hanya adanya hubungan tanpa memperhatikan pengaruh yang berarti antara dua variabel tersebut.
Selanjutnya penelitian ini akan dilaksanakan dalam bentuk metode penelitian survei, sebagaimana pendapat yang dikemukakan Sugiyono (2013, hlm. 35) bahwa:
 “metode penelitian survei adalah metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan data yang terjadi pada masa lampau atau saat ini, tentang keyakinan, pendapat, karakteristik, perilaku, hubungan variabel dan untuk menguji beberapa hipotesis tentang variabel sosiologis dan psikologis dari sampel yang diambil dari populasi tertentu, teknik pengumpulan data dengan pengamatan (wawancara atau kuesioner) dan hasil penelitian cenderung untuk digenarisasikan.”
Penelitian ini akan mengambil data dari kejadian pada masa lampau yaitu dari kegiatan UE yang telah dilakukan pustakawan Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kepada pemustaka dari Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UPI Bandung pada tahun 2014.
Sedangkan variabel yang akan penulis kaji dalam penelitian ini dibagi menjadi dua variabel utama, yaitu variabel bebas (X) yang terdiri satu variabel, yaitu kegiatan user education (X) Sedangkan variabel terikat (Y) terdiri dari satu variabel, yaitu pemberdayaan pemustaka.
Melihat dari jumlah data mahasiswa baru UPI  yang paling banyak mengikuti UE adalah mahasiswa dari Fakultas Pendidikan Matematika dan IPA (FPMIPA)  maka peneliti menetapkan populasi penelitian ini  kepada Mahasiswa baru FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, berdasarkan sumber dari  bagian akademik FPMIPA pada tahun 2014 jumlah mahasiswa baru FPMIPA adalah sebanyak 725 orang.
Sedangkan pengambilan sampel menggunakan rumus dari Taro Yamane Slovin. Dikemukan kembali dalam Riduwan  (2009, hlm. 95).
Keterangan:
n        =  ukuran sampel
N       =  ukuran populasi
e        = nilai kritis (batas kesalahan) yang diinginkan (persen kelonggaran   ketidaktelitian karena kesalahan penarikan sampel).

n=
n=
            n=
            n=
            n=87,87 88


HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan hasil penelitian dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya baik rumusan masalah umum, maupun rumusan masalah khusus.
Rumusan masalah umum pada penelitian ini membahas tentang keterkaitan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka dalam mengakses resources. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan melalui uji korelasi yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara variabel X dengan variabel Y, dengan tingkat korelasi sedang. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa terdapat keterkaitan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka.
Setelah diketahui adanya keterkaitan antara variabel X dengan variabel Y berdasarkan hasil tanggapan 88 responden sebagai sampel penelitian, selanjutnya dilakukan uji signifikansi untuk mengetahui apakah hasil uji hipotesis tersebut berlaku bagi seluruh populasi. Uji signifikansi yang telah dilakukan tersebut menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa hasil uji hipotesis yang telah dilakukan tersebut berlaku juga untuk seluruh populasi. Maka dapat diketahui bahwa permasalahan umum yang telah dirumuskan sebelumnya terjawab, yaitu terdapat keterkaitan yang signifikan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka dalam mengakses resources mahasiswa baru FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.
Pengujian hipotesis yang telah dilakukan menunjukkan adanya keterkaitan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka dalam mengakses resources.
Dari hasil data yang telah dianalisis sebelumnya, dapat diketahui bahwa 88 responden yang telah mengisi kuesioner menyatakaan bahwa dengan adanya kegiatan User Education pengetahuan mahasiswa baru mengenai resources cukup baik.
Sebagai mahsiswa baru yang masih belum mengetahui berbagai jenis koleksi yang disediakan oleh perpustakaan. Adanya kegiatan User Education sangat bermanfaat. Oleh karena itu perlu adanya kegiatan User Education yang akan menjelaskan berbagai jenis resources yang disediakan oleh pustakawan, selanjutnya perlu dijelaskan perbedaan antara setiap jenis resources tersebut dan dijelaskan fungsi dan tujuannya disediakan jenis resources tersebut di perpustakaan.
Menurut Sutarno (2006, hlm. 113), User Education,adalah:Kegiatan yang dilakukan oleh petugas layanan untuk menjelasakan tentang seluk-beluk perpustakaan. Diantaranya manfaat perpustakaan, cara menjadi anggota, persyaratan keanggotaan, tata tertib, jenis layanan, kegunaan sistem katalogisasi dan klasifikasi, serta partisipasi masyarakat didalam perpustakaan. Semua dikerjakan dalam rangka memberikan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pemakai dalam memanfaatkan perpustakaan, secara cepat dan tepat tanpa banyak menghadapi kesulitan.”

Dari pendapat diatas dapat kita lihat pentingnya peran kegiatan User Education dalam meningkatkan pengetahuan pemustaka tentang perpustakaan. Meskipun belum semua mahasiswa baru mengetahui perbedaan dari setiap jenis resources, dapat dibuktikan dalam penelitian ini bahwa sebagian besar mahasiswa baru sudah  mengetahui resources yang terdapat di Perpustakaan UPI. Hal tersebut diketahui dari hasil analisis data diatas yang menunjukkan bahwa pengetahuan memustaka mengenai resources cukup baik.
Bentuk pengetahuan tersebut mencakupi pengetahuan pemustaka tentang koleksi perpustakaan, pengetahuan pemustaka tentang fasilitas perpustakaan dan pengetahuan pemustaka tentang jasa layanan perpustakaan. Dengan adanya pengetahuan pemustaka mengenai resources maka diharapkan pemustaka dapat memanfaatkan resources secara maksimal.
Setelah mengetahui pengetahuan mahasiswa baru mengenai resources maka dapat diketahui juga tentang pemanfaatan resources yang telah dilakukan mahasiswa baru. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan,  diperoleh data bahwa 88 mahasiswa baru yang telah mengisi kuesioner menyatakan bahwa pemanfaatan resources yang telah dilakukan oleh mahasiswa baru cukup baik.
Menurut Soedibyo (1987, hlm.121) pendidikan pemustaka (User Education) “usaha bimbingan atau penunjang pada pemustaka tentang cara pemanfaatan koleksi bahan pustaka yang disediakan secara efektif dan efisien, bimbingan itu dapat berupa bimbingan individu ataupun secara berkelompok”. Dari pendapat tersebut jelas bahwa tujuan dilakukan kegiatan User Education adalah untuk memberi pemahaman kepada pemustaka dalam memanfaatkan resources secara maksimal. Target suatu perpustakaan adalah keterpakaian atau pemanfaatan koleksi oleh pemustaka. Setelah memperkenalkan jenis reosurces yang terdapat di suatu perpustakaan selanjutnya diharapkan pemustaka juga dapat memanfaatkan koleksi yang telah disediakan oleh perpustakaan.
Sebagaimana menurut Sutarno NS (2004, hlm. 95) memaparkan bahwa fungsi User Education adalah :
a.                Pemustaka dapat mengenal dan memahami serta menggunakan sistem yang diberlakukan di perpustakaan tersebut.
b.               Pemakai perpustakaan dapat menggunakan sarana temu informasi yang tersedia seperti kode/nomor klasifikasi, kartu katalog dan petunjuk lainnya.
c.                Pemakai perpustakaan dapat dengan cepat dan tepat menemukan apa yang diperlukan, tanpa banyak membuang waktu, tidak menemui kesulitan atau hambatan.
d.   Perpustakaan dapat memperluas jangkauan pemakaian koleksi oleh pengunjung dan anggota perpustakaan
e.    Perpustakaan dapat mengembangkan citra perpustakaan sebagai bagian dari lembaga pendidikan.
Dari pendapat Sutarno diatas dapat diketahui bahwa User education secara umum berfungsi agar pemustaka dapat memakai atau memanfaatkan sarana temu balik yang tersedia di perpustakaan serta perpustakaan dapat memperbanyak jangka pemakaian koleksi oleh pemustaka.
Kedisiplinan pemustaka juga merupakan hal yang wajib disampaikan ketika dilaksanakan kegaitan User Education agar calon pemustaka tahu hal yang sudah menjadi peraturan di perpustakaan tersebut, kegiatan User Education selain untuk mendidik pemustaka dalam meningkatkan pengetahuan mengenai resources, dan mendidik pengguna dalam memanfaatkan resources. Akan tetapi, kegiatan User Education juga mendidik pemustaka untuk disiplin ketika berkunjung ke perpustakaan.
Hal ini telah dikemukakan oleh Rahayuningsih (2007, hlm. 123) “kegiatan User Education diharapkan mampu berfungsi dalam mendidik pengguna perpustakaan untuk menjadi pengguna yang tertib dan bertanggung jawab”. Hal ini sesuai dengan kedisiplinan pemustaka yang dibahas pada penelitian ini, adapun cakupan kedisiplinan pemustaka yang dibahas pada penelitian ini terbagi dua yaitu ketertiban dan rasa tanggung jawab yang dilakukan oleh mahasiswa baru FPMIPA UPI.
Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa mahasiswa baru FPMIPA sudah disiplin dalam kegiatan mereka berkunjung ke perpustakaan, hal ini dilihat dari kuesioner yang direspon oleh 88 mahasiswa baru bahwa tingkat kedisiplinan mahasiswa baru dikategorikan baik.

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai “keterkaitan kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka mengakses resources” pada mahasiswa baru Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1.      Simpulan Umum
Simpulan umum ini merujuk pada hipotesis yang telah diajukan, yaitu “adanya keterkaitan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka mengakses resources”. Hasil pengolahan data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang signifikan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka mengakses resources. Kegiatan User Education memiliki tingkat korelasi sedang dengan pemberdayaan pemustaka. Adapun bentuk pemberdayaan pemustaka yang diteliti adalah kemampuan pemustaka dalam mengakses resources yaitu dengan mengetahui partisipasi individu dan keterampilan individu dalam mengakses resources.

2.   Simpulan Khusus
Simpulan khusus merujuk pada masalah khusus yang telah dirumuskan, yaitu mengenai pengetahuan pemustaka tentang resources, pemanfaatan resources, dan kedisiplinan pemustaka ketika mengakses resources di perpustakaan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.  Pengetahuan mengenai resources
        Hasil dari pengolahan data penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengetahuan mahasiswa baru mengenai resources dapat dikatakan cukup baik. Hal tersebut terlihat pada hasil pengolahan data dari setiap indikator yang terdapat pada sub variabel pengetahuan mengenai resources. Mahasiswa baru FPMIPA memiliki pengetahuan yang cukup mengenai koleksi yang disediakan oleh Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Selain itu mahasiswa baru juga cukup mengetahui fasilitas yang telah tersedia di perpustakaan, dan mahasiswa baru juga cukup mengetahui layanan apa saja yang disediakan Perpustakaan UPI bagi pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan.





b.      Pemanfaatan resources

Gambaran mengenai pemanfaatan resources yang dilakukan mahasiswa baru dapat dilihat dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa pemanfaatan resources yang dilakukan mahasiswa baru FPMIPA dikategorikan cukup baik.
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa baru sudah memaksimalkan pemanfaatkan koleksi perpustakaan, fasilitas perpustakaan dan layanan perpustakaan yang telah disediakan Perpustakaan UPI.
c.         Kedisiplinan pemustaka
Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan menggambarkan tingkat kedisiplinan mahasiswa baru ketika memanfaatkan koleksi dan menunjukkan perilaku yang baik selama berada Perpustakaan UPI. Hal tersebut dilihat dari hasil pengolahan data berdasarkan indikator pemustaka yang tertib dan pemustaka yang bertanggung jawab. Dari hasil pengolahan data tersebut ditunjukkan bahwa mahasiswa baru memiliki kategori kedisiplinan yang baik ketika berkunjung ke Perpustakaan UPI.



DAFTAR PUSTAKA
Anwas, Oos. (2013). Pemberdayaan Masyarakat Di Era Global. Bandung: Alfabeta
Dirjen DIKTI. (1994). Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi (PTT). Jakarta: Indonesia.
Fjallbrant, Nancy and Ian Malley.(1984). User Education in Libraries. London: Clive bingley.
Hermawan, Rachman dan Zulfikar Zen. (2006). Etika Kepustakawanan. Jakarta: Sagung Seto.
Mardikanto, Totok dan Poerwoko Soebiato (2013). Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik. Bandung : Alfabeta
Okoye, Michael Onuchukwu. (2013). User Education in Federal University Libraries: A study of Trends and Developments in Nigeria. Jurnal : Library Philosophy and Practice. University of Nebraska – Lincoln.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas).
Rahayuningsih, F. (2007). Pengelolaan Perpustakaan.. Yogyakarta : Graha Ilmu
Riza, Risyanti dan Roesmidi. (2006). Pemberdayaan Masyarakat. Sumedang : Alqaprint Jatinangor.
Sari, Rahmita. (2015). Keterkaitan antara kegiatan User Education dengan pemberdayaan pemustaka mengakses resources. (skripsi). Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Rusdihanto, Widodo Mulyo. (2012). Pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Berorientasi kepada sivitas akademis dan perkembangan teknologi informasi. (Skripsi). UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sutarno (2006). Manajemen Peprustakaan : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: CV Sagung Seto.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS