Negara Indonesia merupakan salah satu Negara
berkembang yang terus berupaya memperbaiki diri dalam berbagai bidang. Hal ini
dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Salah satu bidang yang
terus diupayakan untuk berkembang di Negara Indonesia adalah bidang pendidikan.
Lalu muncul satu pertanyaan di benak saya “apa yang telah saya lakukan untuk
memajukan pendidikan di Negara ini?”
Sebagai seorang sarjana pendidikan, maka hal
ini menjadi buah pikir bagi saya terutama upaya yang tepat untuk berkontribusi
dalam memajukan pendidikan di Negara Indonesia. Sebagai warga Negara Indonesia
harus mampu melihat sisi lain yang dapat mendukung terlaksanakannya pendidikan
yang tepat sasaran. Ada beberapa penunjang pendidikan yang mungkin selama ini
terabaikan oleh banyak pihak bahkan oleh pemerintah Indonesia sendiri, salah
satunya adalah perpustakaan.
Menurut kebanyakan orang, perpustakaan hanyalah
sebuah “gudang buku”. Sebagai seseorang yang berlatar belakang ilmu perpustakaan dan informasi saya cukup miris dengan pandangan tersebut karena mereka telah mengabaikan
peran yang
sesungguhnya dari sebuah perpustakaan. Hal ini berbanding
terbalik dengan materi seminar “the kitakyushu Innovation library : belajar
konsep perpustakaan berbasis teknologi lingkungan hidup dari kitakyushu, Fukoka
Jepang ”.
Pemateri seminar yang berasal
dari Jepang mengatakan bahwa “perpustakaan yang berbasis teknologi dapat meningkatkan
frekuensi kunjungan keperpustakaan tersebut”.
Beliau juga menjelaskan bahwa di Fukoka Jepang setiap anak diwajibkan meminjamkan
satu buku bacaan untuk mereka baca dalam satu minggu kemudian melaporkan kepada
gurunya isi dari buku tersebut.
Melihat hal diatas dapat diketahui bahwa untuk
memajukan pendidikan di sebuah negara,maka
diperlukan peran dari perpustakaan karena
perpustakaan merupakan salah satu sarana
pelestarian hasil budaya dan menyimpan
berbagai sumber informasi ilmu pengetahuan
yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pengalaman saya ketika mengikuti PPL (Program
PengalamanLapangan) di dua tempat yakni di perpustakaan sekolah dan perpustakaan
lembaga. Pada saat melakukan PPL di perpustakaan sekolah saya melihat banyaknya
kebutuhan informasi siswa yang belum terpenuhi oleh perpustakaan. Menurut petugas
perpustakaan, sedikitnya anggaran yang diberikan pihak sekolah terhadap perpustakaan
menimbulkan kekurangan koleksi yang tidak dapat disediakan oleh pihak perpustakaan.
Hal ini juga serupa dengan pengalaman saya ketika PPL di salah satu perpustakaan
di lembaga yang ada di kota Bandung dimana saya menemukan masalah yang
sama
yaitu perpustakaan
mendapatkan anggaran paling sedikit dibandingkan dengan bidang lainnya di
lembaga tersebut. Selain masalah anggaran, saya juga menemukan masalah lain
yaitu kurangnya tenaga pustakawan di kedua perpustakaan tersebut, sehingga seluruh kegiatan di perpustakaan tersebut tidak terlaksana
dengan baik. Pustakawan adalah
seseorang yang berlatar belakang ilmu perpustakaan. Seorang pustakawan harus cermat
memahami kondisi pemustaka (orang yang mengunjungi perpustakaan). Perhatian pemerintah
juga sangat diharapkan agar perpustakaan dapat terlaksana dengan baik sehingga masyarakat
tertarik untuk berkunjung ke perpustakaan dan terciptanya masyarakat yang gemar
membaca.
Saat ini, peran yang saya telah lakukan belumlah seberapa.
Saya membuat artikel tentang tokoh dunia sukses dengan gaya hidupnya yang gemar
membaca dan poster tentang keuntungan berkunjung ke perpustakaan ditempelkan di
setiap majalah dinding (mading) pada setiap minggunya ketika saya praktek
lapangan di dua perpustakaan. Selain itu, di asrama tempat sayatinggal, saya mempunyai
perpustakaan pribadi yang koleksinya diperoleh dari pengajuan proposal kepada beberapa
penerbit buku. Dengan perpustakaan tersebut saya bisa meminjamkan koleksi tersebut
ke rekan-rekan seasrama dan apabilabukunya sudah tidak dipakai atau digunakan lagi
saya menyumbangkan buku-buku tersebut sekali satu tahun kebeberapa panti asuhan
yang ada di kota Bandung. Setelah
menamatkan pendidikan Sarjana saya di bidang Perpustakaan dan Informasi, saya
mengapdikan diri saya kepada satu-satunya Sekolah Menengah Atas (SMA) di daerah
asal saya di Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan, Pes-sel Sumatera Barat. Memulai
hari pertama dengan setumpuk buku yang belum tersusun rapi, dan sarana serta
prasarana yang belum memadai. Berbekal sedikit ilmu tentang desain perpustakaan
lalu saya kembali menata ruangan tersebut menjadi menarik untuk dikunjungi,
saya menata kembali warna dinding serta sarana-sarana yang diberikan pihak
sekolah. Dalam kurun waktu sebulan perpustakaan tersebut sudah tersusun dengan
rapi, koleksi sesuai dengan standar perpustkaan sekolah dan ruangan bersih,
rapi serta menarik untuk dikunjungi. Jumlah pengunjung perpustakaan tersebut
meningkat drastis, tidak hanya peserta didik tetapi juga segenap sivitas
akademika di sekolah tersebut menjadi gemar berkunjung ke perpustakaan. Hal
tersebut memberi semangat tersendiri bagi saya untuk dapat memberi kontribusi
kepada dunia perpustakaan, meskipun belum seberapa akan tetapi saya meyakini
hal kecil akan menjadi hal yang besar bagi sisi lain.
Saya
berharap, suatu saat nanti pendidikan Indonesia terus berkembang seiring dengan
perhatian masyarakat dan pemerintah tentang peran perpustakaan dalam
mencerdaskan anak bangsa. Dan
keinginan terbesar saya, semoga saya bisa memberikan kontribusi untuk perbaikan
sistem pendidikan di negara ini dengan menjadi pustakawan yang bisa mengelola
perpustakaan dengan terorganisir, menyediakan koleksi yang terawat dengan baik,
memahami kebutuhan informasi pemustaka dan terampil serta kreatif dalam
mengajak masyarakat tertarik mencari ilmu ke perpustakaan. Semoga masyarakat
Indonesia menjadi masyarakat yang gemar membaca.
Essay by : Rahmita Sari
Credit for : LPDP's Schoolarship






0 komentar:
Posting Komentar