Munculnya cyberchondria di era revolusi informasi
Di era revolusi informasi nilai
kesejahteraan tergantung pada perkembangan sistem untuk merekam, mengumpulkan
dan menyampaikan informasi masa lalu, era ini dikenal dengan istilah “no record, no history” dengan demikian dapat dikatakan seseorang dapat memproduksi informasi jauh lebih besar
lagi. Revolusi informasi juga didukung dengan akses teknologi yang memudahkan
seseorang mencari informasi dan mencari solusi atas masalah yang sedang
dihadapi (cyberchondria).
Hiperhistory atau dikenal dengan seseorang
yang memiliki ketergantungan dengan teknologi, sehingga munculnya sebuah
penyakit yang dikenal dengan cyberchondria, istilah ini dikenal dengan sebuah
penyakit yang tidak ditimbulkan oleh virus tetapi timbul karena prilaku pengindap
penyakit itu sendiri. Asal kata cyberchondria
adalah cyber dan hipokondria istilah ini bersalah dari bahasa yunani artinya tulang
rawan atau tulang dada. Ini bermaksud untuk mengatakan bahwa pengidap penyakit cyberchondria
merendahkan segala macam informasi real karena cyberchondric cenderung lebih
self-diagnosis.
Di dunia medis cyberchondria dipakai
untuk menyebut orang-orang yang mengganggap dirinya sedang mengidap penyakit
parah berdasarkan hasil berjelajah informasi melalui internet secara
berlebihan. Sehingga, dunia kedokteran menyebut penyakit ini bahkan lebih
berbahaya dibandingkan dengan penyakit yang sebenarnya yang sedang dihadapi
oleh pasien tersebut. cyberchondria ini bahkan dapat mengancam kematian
dikarenakan pengidap akan terus-menerus mencari infomasi penyakitnya di
internet yang barang tentu informasi tersebut tidaklah benar. Pengidap penyakit
ini biasanya sulit berinteraksi dengan dunia nyata dan selalu mengandalkan
informasi di internet sebagai solusi diatas setiap permasalahannya.
Masyarakat
hiperhistory memang seharusnya membatasi diri dalam mengakses informasi, karena
akan membahayakan jika sudah ketergantungan dan bahkan lebih mempercayai
bantuan teknologi dibandingkan profesi-profesi (misalnya dokter) yang mempunyai
ilmu lebih dibidang kesehatan yang dapat mengdiagnosa penyakit lebih akurat,
padahal informasi yang terdapat di internet hanya berdasarkan database
penulisnya saja. Lalu, coba bertanya
kepada diri masing-masing. Apakah kita sudah cenderung mengidap penyakit cyberchondria?






1 komentar:
Intinya, bagaimana mengatur arus perputaran informasi agar tidak terjadi ledakan informasi yang bisa jadi akan memberatkan diri sendiri--apalagi informasi tersebut ada dalam circle of concern. Dalam hal ini, PIM (Personal Information Management)menjadi salah satu bentuk yang pas untuk belajar tidak terhempas dari berbagai delai
Posting Komentar