Pengelolaan Perpustakaan
sebagai “Connected Learning Experience”
Ketika melihat pada perkembangan perpustakaan yang ada, maka
terdapat lima generasi perpustakaan “library as space” (Priyanto:2017).
Ketika memasuki generasi ke empat perpustakaan akan berfokus kepada penyediaan
sarana yang layak untuk pemustaka agar belajar dengan nyaman di
perpustakaan atau yang di kenal sebagai “Connected Learning Experience”.
Belajar pada hakikatnya adalah proses
perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan tertera
yang telah dirumuskan sebelumnya. Pengalaman yang dapat memberikan sumber
belajar diklasifikasikan menurut jenjang tertentu berbentuk kerucut pengalaman
(Khatibah:2013),
dari pendapat tersebut kita mengetahui bahwa belajar dan pengalaman berkaitan
satu sama lain ke arah pencarian informasi. Perpustakaan sebagai sumber
informasi sudah seharusnya memperhatikan terciptanya pengalaman yang baik
ketika seseorang memilih perpustakaan sebagai tempatnya untuk belajar. Menurut (Hamalik: 2003) adalah Belajar
adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined asthe modification or
strengthening of behavior through experienceng). Untuk memberikan
pengalaman yang baik untuk perpustakaan, sudah waktunya untuk mengelola perpustakaan dengan berbenah diri. Menurut ibrahim bafadal (2005:5) indikasi pengelolaan
perpustakaan yang baik tidak hanya dilihat dari tingginya prestasi, tetapi
lebih jauh lagi, antara lain adalah pemustaka mampu mencari, menemukan,
menyaring, dan menilai informasi, murid-murid terbiasa belajar mandiri, pemustaka
terlatih ke arah tanggung jawab, pemustaka selalu mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya. Untuk menciptakan Connected
Learning Experience maka dapat
diperhatikan beberapa hal berikut ini :
1.
Gedung
atau ruang perpustakaan
Gedung
perpustakaan yang layak harus diperhatikan, berdasarkan siapa target pengguna
perpustakaan tersebut. Misalkan perpustakaan sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak
(TK) atau Sekolah Dasar (SD) maka kita dapat memilih gedung atau ruang yang dengan mudah dijangkau oleh anak-anak, carilah ruangan yang tidak terletak di
lantai atas sebuah gedung karena itu bisa beresiko untuk anak-anak. Begitu pula dengan
penataan gedung harus disesuaikan dengan target yang menggunakan perpustakaan
tersebut.
2.
Pemilihan
koleksi
Tugas seorang pustakawan dalam
memilih lokasi yang layak untuk di konsumsi oleh pemustaka. Koleksi bisa
disesuaikan kebutuhan sebuah perpustakaan. Misalkan perpustakaan fakultas
peternakan, maka koleksi yang dapat disajikan adalah koleksi-koleksi yang
berhubungan dengan ilmu peternakan dan hewan.
3.
Menyediakan
peralatan yang dibutuhkan
Peralatan yang dapat membantu seorang pemustaka untuk menunjang kebutuhan informasi yang sedang dicari di perpustakaan. Dengan demikian perpustakaan adalah tempat belajar yang bisa menjadi pengalaman yang baik
baginya, dari peralatan digital sampai peralatan yang bersifat manual. Misalnya
memberikan pinjaman tablet untuk membuka e-collection
seperti e-jurnal, e-book, e-magazine dll.
4.
Tenaga
Pustakawan
Untuk dapat mengelola suatu
perpustakaan dengan baik maka diperlukan tenaga pustakawan yang terberdaya. Pemberdayaan
pustakawan dapat berupa pendidikan lanjutan ataupun berupa pelatihan yang
diberikan pihak atasan, instansi ataupun dari luar lingkup perpustakaan itu
sendiri.
Demikian hal-hal yang harus diperhatikan lebih lanjut untuk
menciptakan perpustakaan sebagai “Connected Learning
Experience”. Perpustakaan harus terus berbenah sesuai
tuntutan zaman dan kebutuhn informasi pemustaka. Maka diharapkan perpustakaan bisa menjadi sumber
belajar yang menciptakan pengalaman baik bagi setiap pengunjungnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Bafadal Ibrahim. 2005. Pengelolaan
Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar,2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Pt Bumi
Aksara.
Khatibah. 2013. Pengembangan Perpustakaan Sebagai
Pusat Sumber Belajar Dalam Kegiatan Instruksional Pada Iain-Sumatera Utara, Medan: Iain-Sumatera Utara.
Priyanto,
Ida Fajar. 2017. Materi Mata Kuliah Manajemen Disain Dan Perpustakaan. Yogyakarta
: Universitas Gadjah Mada.
.






1 komentar:
connectedness terkait dengan fasilitas teknologi informasi dan area untuk kelompok pemustaka. Juga kemudahan akses ke sumber pengetahuan maupun pakar yang berlokasi jarak jauh.
Posting Komentar